Menyambut Bandara Kertajati, Mengenal Sejarah Majalengka

Bandara Kertajati di Kabupaten Majalengka diresmikan. Simak sejarah kabupaten yang terkenal sebagai penghasil genteng ini.

3.jpg

24 Mei 2018, sebuah bandar udara baru diresmikan. Pemerintah menamainya Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB). Letaknya di Kertajati, salah satu kecamatan di Kabupaten Majalengka, berjarak 68 kilometer dari Kota Bandung.


Jika dibandingkan dengan daerah lain di Jawa Barat seperti Bogor, Bandung, dan Cirebon, kabupaten ini kurang populer. Sebelum BIJB selesai dan siap dioperasikan, kota ini bukanlah kota tujuan mencari pekerjaan. Bukan pula kota yang hiruk-pikuk dengan kegiatan ekonomi dan bukan pusat gaya hidup.

Majalengka bahkan kalah terkenal oleh Jatiwangi, salah satu kecamatannya, penghasil genteng yang sohor itu.

Bagaimana kabupaten ini bermula? Ada banyak versi terkait asal usul penamaan Majalengka. N. Kartika dalam Sejarah Majalengka: Sindangkasih, Maja, Majalengka(2007), setidaknya menuliskan tiga versi.

Pertama, dari kata “Maja Langka” (bahasa Jawa) yang artinya “Maja Tidak Ada”. Alkisah, antara tahun 1552-1570, Cirebon yang saat itu dipimpin oleh Syarif Hidayatullah terserang penyakit demam yang amat hebat. Syarif mengutus anaknya, Pangeran Muhammad, untuk mencari pohon maja ke daerah Sindangkasih yang dipercaya dapat menyembuhkan demam yang tengah diderita rakyatnya.

Penguasa Sindangkasih, Nyi Rambutkasih yang beragama Hindu, tidak sudi jika wilayahnya diinjak oleh orang-orang yang memeluk Islam. Sebelum Pengeran, Muhammad dan rombongannya tiba di Sindangkasih, hutan yang semula dipenuhi pohon maja bersalin rupa menjadi hutan sangat lebat, tak menyisakan satu batang pun pohon maja. Saat mengetahui bahwa pohon maja tidak ada, maka Pangeran Muhammad berkata, “Maja Langka.”

Kedua, “Media Lengka” yang artinya “di tengah-tengah eling (ingat) kepada asal permulaan”. Versi ini mengisahkan tentang anak-anak raja Kerajaan Galuh yang berbeda agama dan saling mempertahankan agamanya. Diceritakan bahwa anak tertua raja masuk Islam dan menjadi murid Sunan Gunung Jati, Cirebon.

Anak tertua ini kemudian diutus oleh Sunan Gunung Jati untuk menyebarkan agama Islam, termasuk kewajiban mengajak adiknya untuk masuk Islam. Namun, sang adik menolak ajakan tersebut dan mereka pun bertengkar. Sebelum pertengkaran berubah menjadi kelahi dan sabung nyawa, mereka buru-buru menyadari bahwa persaudaraan lebih utama daripada memaksakan agama. Sambil berpisah, masing-masing mereka berkata, “Media Lengka.”

Ketiga, “Madia Langka” yang berarti “antara ada dan tiada”. Versi ini menceritakan asal-usul nama Majalengka dari periode Kerajaan Mataram Islam. Pengaruh kerajaan ini dikisahkan mulai merangsek ke arah barat pulau Jawa, termasuk ke sebuah daerah yang sekarang bernama Majalengka, tapi pemimpinnya yang bernama Sunan Jebug tak mau tunduk.

Hal ini tentu membuat Sultan Agung marah dan segera mengirim empat puluh orang hulubalang untuk merebut daerah Sultan Jebug. Mengetahui akan diserang, Sultan Jebug beserta senopatinya yang bernama Endang Capang memutuskan untuk pergi dan hanya meninggalkan petilasan, demi menghindari pertumpahan darah.

Saat para hulubalang utusan Sultan Agung tiba di daerah Sultan Jebug, mereka tak menemukan orang yang dimaksud, sehingga salah satu hulubalang itu berseru, “Madia Langka.”

“Dikatakan tidak ada karena tidak sampai ditemukan, dikatakan ada karena ada (patilasan) bekas-bekas peninggalannya. Demikianlah dari ‘Madia Langka’ berubah menjadi Majalengka,” tulis Kartika mengutip dari Milangkala 512 Majalengka (2002).

Nyi Rambutkasih dan Bagus Rangin

Hari ulang tahun Kabupaten Majalengka diperingati setiap tanggal 7 Juni. Sampai tahun 2017, kota tersebut telah berusia 527 tahun, artinya kelahiran Majelangka adalah tanggal 7 Juni 1490. Tahun itu menurut A. Sobana Hardjasaputra, guru besar sejarah Universitas Padjadjaran: salah.

Dalam artikel bertajuk “Benarkah 7 Juni Hari Jadi Kabupaten Majalengka?” yang dimuat harian umum Pikiran Rakyat edisi 16 Juni 2007, ia menerangkan bahwa tahun 1490 masih zaman Kerajaan Sunda dan belum ada bentuk pemerintahan kabupaten.

“Akhir abad ke-15, di daerah yang sekarang merupakan wilayah Kabupaten Majalengka masih terdapat kerajaan kecil di Talaga dan Rajagaluh, keduanya bawahan Kerajaan Sunda,” tambahnya.

Jika menilik catatan N. Kartika dalam Sejarah Majalengka: Sindangkasih, Maja, Majalengka (2007), pemilihan tahun tersebut kemungkinan besar dikaitkan dengan tokoh mitologi bernama Nyi Rambutkasih (sebagian warga menyebutnya Nyi Ambetkasih), yang dalam tradisi lisan dikabarkan hidup sekitar tahun 1480-an.

Cerita tentang Nyi Rambutkasih berkembang dari mulut ke mulut, diwariskan dari generasi ke generasi sebagai tokoh penting dalam kelahiran Majalengka. Tradisi lisan ini mengisahkan bahwa Nyi Rambutkasih adalah keturunan Prabu Siliwangi yang masih teguh memeluk agama Hindu saat saudara-saudaranya seperti Rarasantang, Kiansantang, dan Walangsungsang telah memeluk Islam.

Sekali waktu, ia hendak menemui saudaranya di daerah Talaga yang bernama Raden Munding Sariageng dan Ratu Mayang karuna yang memerintah daerah tersebut. Namun, sebelum tiba di tempat saudaranya, ia mendapat kabar kalau saudaranya telah masuk Islam sehingga dia mengurungkan niatnya dan menetap di daerah Singdangkasih.

Ia dikisahkan memimpin Sindangkasih dengan baik. Daerah itu aman, makmur, dan sentosa. Singkatnya rakyat hidup nyaman dan sejahtera. Sampai suatu hari kira-kira tahun 1485, putra Raden Rangga Mantri dari Kerajaan Talaga yang bernama Dalem Panungtung diperintahkan untuk menjadi Dalem di daerah dekat Sindangkasih. Hal ini membuat wilayah Nyi Rambutkasih semakin terjepit oleh pengaruh agama Islam.

“Dinamai Dalem Panungtung karena dialah yang mengakhiri riwayat penganut agama Budha/Hindu di situ,” tulis Kartika.

Jika hari lahir Kabupaten Majalengka ditetapkan pada 1490, kemungkinan karena ia bertepatan dengan berakhirnya pemerintahan Nyi Rambutkasih akibat desakan kekuatan Islam.

Tokoh lain yang hidup dalam benak masyarakat Majalengka adalah Bagus Rangin. Hazmirullah dalam empat artikel yang dipublikasikan oleh Pikiran Rakyat edisi 21 September 2015 mencoba membeberkan siapa sebetulnya sosok ini.

Ia menulis tentang Bagus Rangin saat masyarakat ramai memperbincangkan gelar pahlawan yang rencananya akan disematkan kepada Bagus Rangin yang dikenal sebagai tokoh perlawanan terhadap Belanda.

“Dalam naskah-naskah lokal, Bagus Rangin digambarkan sebagai sosok yang menguasai teknik peperangan. Sejumlah strategi pernah ia jalankan saat berperang melawan pasukan Belanda, di antaranya tutup kembu dan gelar perang suluhan,” kata R. Achmad Opan Safari Hasyim, peneliti asal Cirebon.

Saking tinggi kedudukan Bagus Rangin di mata masyarakat, sebagian dari mereka meyakini bahwa Bagus Rangin tidak mati tapi hanya menghilang. Namun, menurut Nina Herlina Lubis, Ketua Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah Provinsi Jawa Barat, Bagus Rangin ditangkap dan dihukum oleh Belanda pada tahun 1812.

“Hanya, orang dulu tak tega menyebutkan peristiwa menyakitkan seperti itu. Oleh karena itu, di dalam naskah atau cerita tutur, mereka hanya menuliskan bahwa Bagus Rangin ‘menghilang’, ngahiang, atau moksa,” ujarnya.

Sementara Supali Kasim, peneliti sejarah asal Indramayu, menerangkan bahwa sosok Bagus Rangin di dalam “Babad Dermayu” dan sejumlah naskah lain dari beberapa daerah di Kabupaten Indramayu, menyebutkan Bagus Rangin sebagai sosok perampok, perusuh, pengacau, dan berandal.

“Celakanya, belakangan Babad Dermayu itu dijadikan buku berjudul ‘Sejarah Indramayu’ dan terbit pada 1977. Padahal, kajiannya sangat miskin dan tanpa melalui tahapan heuristik, kritik, interpretasi, serta penulisan historiografi. Kuat dugaan, babad itu ditulis oleh orang yang berpihak kepada Belanda,” tuturnya.

Kepahlawan Bagus Rangin bagi masyarakat Majalengka dan sekitarnya juga diperkuat oleh keterangan dari Djoko Marihandono, guru besar sejarah di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, yang menyelidiki sejumlah arsip kolonial, di antaranya bundel Cheribon Nomor 39/8 dan Indische Archief Tijdschrift Jilid III tahun 1850.

“Perjuangan Bagus Rangin sangat merepotkan pasukan kolonial Belanda. Bahkan, Bagus Rangin menginspirasi pemberontakan-pemberontakan berikutnya hingga tahun 1818. Saya mencatat, setidaknya terdapat 27 daerah yang dijadikan tempat gerilya pada masa itu,” ujarnya.

2.jpg

Pembangunan Infrastruktur

Dalam sejarah Majalengka sebagai sebuah kota, pembangunan infrastruktur tentu telah dilakukan sejak tempo dulu, meski memang kurang ada gaungnya karena bukan infrastruktur bertaraf internasional.

Jalan Raya Pos yang dibangun Daendels membentang dari Anyer sampai Panarukan. Majalengka adalah salah satu kabupaten yang terlewati oleh proyek yang banyak memakan korban tersebut.

Tahun 1867, Majalengka, yang saat itu salah satu afdeling dari Karesidenan Cirebon, memekarkan wilayahnya menjadi lima distrik dengan hadirnya distrik Jatiwangi karena di daerah tersebut terdapat perkebunan, pabrik gula, dan lain-lain. Penambahan distrik baru ini tentu didukung oleh pembangunan sarana infrastuktur.

“Pembangunan berbagai sarana fisik yang ada di Kabupaten Majalengka di antaranya jalan raya. Selain itu, jaringan jalan trem bermesin uap (kereta api kecil),” tulis Kartika.

Warsa 1900-an, perusahaan kereta api yang mengelola jalur Semarang-Cirebon diberikan izin untuk membangun dan mengeksploitasi jalur Cirebon-Kadipaten. Hal ini karena di sejumlah daerah di Majalengka terdapat pabrik gula yang cukup besar dan ada beberapa perkebunan yang komoditasnya mesti diangkut secara cepat.

Pada 1928, Rumah Sakit Cideres atau yang semula bernama Zending Hospital Tjideresdiresmikan. Inilah sarana pelayanan kesehatan pertama bagi masyarakat Majalengka. Dan rumah sakit umum kedua baru dibangun pada tahun 1940-an.

Seperti pembangunan infrastruktur yang telah disebutkan di atas, pembangunan-pembangunan sarana lainnya terus dikerjakan di Majalengka dan tanpa ada pemberitaan berarti. Sampai akhirnya Tol Cipali, Tol Cisumdawu, dan Bandara Kertajati yang beberapa tahun terlantar digeber pembangunannya oleh Jokowi.

Majalengka, kota kecil di timur Bandung yang sebelumnya nyaris tak pernah menghiasi ruang-ruang pemberitaan, mulai hari ini akan menghadapi takdirnya yang baru sebagai kota yang disinggahi banyak orang. Tentu perubahan ini akan disertai oleh perkembangan ekonomi, juga risiko-risiko lain seperti kebisingan, pertambahan penduduk, kriminalitas, yang tak semuanya menyenangkan.

Penulis: Irfan Teguh
Editor: Maulida Sri Handayani

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *