Al-Ilmu Nuurun Cak Nun: Kiai Mbeling yang Menyampaikan Agama lewat Seni dan Sastra

Cak Nun sudah hobi protes sejak kecil. Melawan hegemoni Orde Baru dengan langkah kultural dan spiritual.

1

Kurun akhir 1970-an penggunaan jilbab mulai semarak. Banyak siswi sekolah umum yang mulai memakai jilbab di sekolah. Tapi, saat itu pemakaian jilbab tak sampai berkembang. Pemerintah Orde Baru yang alergi pada penampakan ekspresi keislaman, melarang pemakaiannya di sekolah negeri pada 1982.

Saat itu pelarangan jilbab tak hanya terjadi di Indonesia. Siswi muslim di Inggris dan Perancis juga mengalami pelarangan serupa. Muhammad Ainun Nadjib—penyair dan dramawan muda yang sedang naik daun—gelisah dengan kondisi macam itu. Baginya, pelarangan tersebut adalah pelanggaran atas hak asasi manusia dan karenanya harus diprotes.

Kegelisahan itu ia tuangkan dalam sebuah puisi berjudul “Lautan Jilbab”. Puisi itu—yang ditulisnya secara spontan—lantas ia bacakan dalam forum “Ramadhan on Campus” yang diselenggarakan Jamaah Shalahuddin UGM pada Mei 1987. Ia naik panggung usai penyair senior Taufiq Ismail. Tak dinyana, “Lautan Jilbab” mendapat respon yang meriah dari sekitar 6.000 orang yang hadir.

Muhammad Ainun Nadjib lalu mengembangkan puisinya itu menjadi lakon teater. Ini menjadi sarana protesnya atas kecenderungan Orde Baru menghalangi umat Muslim menerapkan syariat Islam dalam keseharian. Bersama Jamaah Shalahuddin, lakon itu dipentaskan pertama kali di UGM. Selama dua hari pementasan, Lautan Jilbabditonton tak kurang dari 5.000 orang, suatu jumlah yang fantastis kala itu.

Muhammad Ainun Nadjib atau lazim dikenal sebagai Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun dipuji atas capaian itu. Ia dianggap berhasil menangkap realitas dan gejolak sosial masyarakat dalam sebuah pertunjukan seni. Namun, bukan apresiasi macam itu yang ditujunya.

“Pakai jilbab atau tak berjilbab,” kata Emha, “adalah otoritas pribadi setiap wanita. Pilihan atas otoritas itu silahkan diambil dari manapun: dari studi kebudayaan, atau langsung dari kepatuhan teologis. Yang saya perjuangkan bukan memakai jilbab atau membuang jilbab, melainkan hak setiap manusia untuk memilih,” aku Cak Nun seperti dicatat Aprinus Salam, Alfan Alfian, dan Wawan Susetya dalam Kitab Ketenteraman (2014: 148).

Puisi dan lakon tersebut tak ubahnya sebuah ajakan perlawanan. Sejak itu pemakaian jilbab punya arti perlawanan terhadap otoritarianisme Orde Baru. Puisi “Lautan Jilbab” kemudian diperbaruinya dan diterbitkan dalam sebuah antologi Syair Lautan Jilbab pada 1989.

Larangan berjilbab bagi siswi sekolah negeri akhirnya dicabut pada 1991, tapi protes Cak Nun tak surut. Selang setahun setelah itu ia kembali memanggungkan lakon protes bertajuk Perahu Retak. Rezim Soeharto lagi-lagi jadi sasarannya.

Perahu Retak bercerita tentang konflik-konflik antara rakyat dan penguasa di era akhir kerajaan Pajang hingga berdirinya Mataram. Era itu bagi Cak Nun adalah tamsil yang cocok bagi Orde Baru yang feodal dan hiprokit. Suatu era saat kerajaan Jawa kehilangan karakter egaliter dan demokratisnya dan berubah jadi feodal, tertutup, dan represif laiknya Orde Baru.

“Dulu saya menulis Perahu Retak, suatu repertoar teater yang dipentaskan di Yogya menjelang puncak kemuakan sejarah terhadap Orde Baru. Kemudian Perahu Retaksebagai album lagu kita launching sehari sebelum peristiwa penyerbuan kantor PDI,” ungkap Cak Nun sebagaimana dikutip para penyusun Kitab Ketenteraman (hlm. 76).

Seakan tak pernah puas, pada November 1993, Cak Nun kembali memanggungkan lakon protesnya. Lakon bertajuk Pak Kanjeng itu memotret perlawanan Pak Jenggot menolak pembangunan waduk Kedungombo, Boyolali, Jawa Tengah. Ia menjadi representasi rakyat kecil yang ditindas hak-haknya oleh hegemoni pembangunan Orde Baru.

“Gagasan berani dalam pementasan ‘Pak Kanjeng’ yang sarat kritik politik itulah yang kemudian menjadikan pertunjukannya di berbagai kota dilarang oleh pemerintah,” tulis Sumasno Hadi dalam Semesta Emha Ainun Nadjib: Bentangan Pengembaraan Pemikiran (2017: 76).

Tukang Protes Sejak Kecil

Protes seakan jadi hobi Emha. Sejak sangat belia ia sudah protes sana-sini. Salah satu kisah protesnya yang cukup terkenal di kalangan Jamaah Maiyah—jaringan komunitas spiritual dan keilmuan yang diasuhnya—di antaranya terjadi kala ia baru sekolah dasar.

Alkisah, suatu kali Emha terlambat datang ke sekolah karena suatu alasan. Atas kesalahannya itu ia rela saja dihukum berdiri di depan kelas seharian. Lain waktu salah seorang gurunya terlambat mengajar. Bagi Emha aturan harus ditegakkan dan siapapun yang melanggar harus dihukum. Tak terkecuali guru sekalipun. Jadilah ia ‘menghukum’ gurunya itu keliling lapangan sambil menggotong sepeda. Jelas saja sang guru marah besar padanya dan Emha lantas dikeluarkan dari sekolah.

Emha lalu dikirim mondok ke Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo. Di sana ada kakaknya, akrab disapa Cak Fuad, yang telah lebih dulu nyantri di pesantren prestisius itu. Sang kakaklah yang mengurusi hampir semua keperluan Emha selama di Ponorogo. Cak Fuad cukup senang adiknya yang mbeling itu akhirnya diterima nyantri dan menjalani kehidupan santrinya dengan tertib dan disiplin.

Tetapi itu pun tak lama karena lagi-lagi Emha berulah. Kali ini ia memobilisasi protes terhadap petugas keamanan pesantren yang menurutnya zalim. Gara-gara itu, seperti diakuinya sendiri dalam buku terbarunya, Kiai Hologram (2018: 29), Emha diusir dari pesantren.

Tak ada perasaan sedih atau menyesal setelahnya. Bahkan Emha tak punya niat untuk melanjutkan sekolah. Sampai akhirnya sang ayah turun tangan sendiri mengajar Emha. Ketika kemudian Cak Fuad berkuliah di UGM, Emha pun dikirim ke Yogyakarta untuk melanjutkan sekolah SMP hingga SMA.

Fase hidup di Yogyakarta inilah yang kemudian mengasah karakter dan kapasitas diri Emha. Untuk membiayai kebutuhan sehari-hari Cak Fuad menerima order majalah stensilan dari beberapa organisasi mahasiswa. Emha ikut kebagian mengisi majalah-majalah itu.

“Kemiskinan melatih saya untuk bisa menulis […] Di luar menulis berbagai artikel, esai, atau cerpen untuk majalah-majalah stensilan itu, diam-diam saya juga rajin menulis puisi […] Akan tetapi, gara-gara puisi saya mbolos sekolah rata-rata 40 hari dalam satu kuartal. Setiap malam begadang di Malioboro,” ungkap Cak Nun (hlm. 30).

Dengan susah payah Emha menyelesaikan SMA-nya dan lalu diterima berkuliah di Fakultas Ekonomi UGM. Namun, ia hanya bertahan satu semester. Ia lebih memilih panggilan “universitas Malioboro”, menggabungkan diri ke dalam Persada Studi Klub (PSK), berguru kepada seorang penyair misterius Umbu Landu Paranggi.

Sekira lima tahun, mulai 1970, Emha hidup menggelandang di Malioboro, berproses bersama PSK. Klub ini melatih anggotanya melalui berbagai diskusi dan penjelajahan ke kampung-kampung. Bersama Emha, turut pula para penulis muda seperti Linus Suryadi AG, Yudhistira Adhi Noegraha, Iman Budhi Santosa, Suwarno Pragolapati, Bambang Indra Basuki, Bambang Darto, dan Saiff Bakham.

Ian Leonard Betts dalam Jalan Sunyi Emha (2006) mencatat bahwa PSK dan kehidupan Malioboro amat krusial bagi pengembangan sosial, intelektual, kultural, maupun spiritual Emha. Namanya perlahan dikenal publik karena produktivitasnya menulis esai, puisi, dan cerpen yang diterbitkan media lokal dan nasional.

Pada 1975 antologi puisi pertama Emha berjudul “M” Frustrasi terbit dalam bentuk stensilan. Di tahun itu juga ia bersama beberapa kawannya membentuk kelompok Teater Dinasti. Bersama merekalah Emha kerap mementaskan pembacaan puisi-puisinya. Namanya sendiri sudah cukup mapan sebagai penulis kala itu (hlm. 9-10).

Paruh akhir 1970-an hingga sepanjang dekade 1980-an agaknya adalah masa paling kreatif dan produktif bagi Emha. Saat itulah, dari puisi dan esai, Emha kemudian mengembangkan diri menulis naskah drama. Karya-karya dramanya yang pernah dipentaskan oleh Teater Dinasti antara lain Geger Wong Ngoyak Macan (1982), Patung Kekasih (1983), Keajaiban Lik Par (1984), Mas Dhukun (1986), dan Calon Drs. Mul (1987).

Pemikiran sastranya pun selama itu kian berkembang. Sebagaimana kebanyakan penyair pemula, Emha memulai menulis puisi cinta dan protes. Dari proses pencarian bentuk estetika ia menolak segala standardisasi dan elitisme dalam seni. Hingga di puncak kematangannya, ia menemukan apa yang disebutnya “sastra pembebasan”.

“Sastra kami membebaskan rakyat. Sastra kami bukan bentuk tirani baru terhadap rakyat, sementara bentuk-bentuk tirani yang lain mengepung mereka. Di tengah-tengah situasi ini sastra kami membebaskan dirinya untuk menjadi otentik dan mengendalikan tindakan memilih dan menentukan sikap,” kata Emha sebagaimana dicatat Betts dalam bukunya (hlm. 10).

Dan begitulah, lewat karya-karyanya Emha segera dikenal sebagai komentator sosial yang tajam dan mengena. Selama dekade 1980-an hingga 1990-an ia dielu-elukan sebagai pembela kaum marjinal. Cak Nun sendiri—seperti pengakuannya kepada Jaya Suprana dalam sebuah acara temu wicara—memandang dirinya tak lebih dari seorang “pelayan sosial”.

Agaknya ia hendak meneruskan semangat sosial bapak-ibunya, atau setidaknya terinspirasi oleh mereka. Kedua orang tuanya orang biasa saja, namun punya jiwa sosial yang tinggi. Keduanya, meminjam kata-kata Emha, adalah “bapak-ibunya orang banyak”.

“Sejak masih digendong-gendong dan baru bisa berjalan, saya sudah ikut ibu berjalan keliling melihat para tetangga, menanyakan mereka masak apa, anaknya sekolah enggak, problem-problemnya. Itu kemudian secara tidak sengaja membentuk sikap sosial saya. Kebetulan nilai-nilai yang mendasari semuanya adalah agama, karena agama Islam kuncinya satu yakni menolong orang yang tidak mampu di segala bidang agar dibuat mampu menjadi manusia,” tutur Emha sebagaimana dikutip Kitab Ketenteraman (hlm. 131).

2.jpg

Jamaah Maiyah

Sejauh itu hubungan Cak Nun amat lekat dengan sastra. Sastra yang luwes agaknya cocok menjadi medium bagi seniman kelahiran Jombang, 27 Mei 1953, ini untuk menyuarakan aspirasinya di masa Orde Baru. Cak Nun—seperti dicatat para penyusun Kitab Ketenteraman (hlm. 135)—mengakui bahwa, “Tanpa bantuan sastra, langkah komunikasi saya akan sangat terbatas. Dengan sastra, di samping saya dapat menemukan berbagai format komunikasi, saya juga tetap bisa memelihara pandangan terhadap dimensi-dimensi kedalaman manusia dan masyarakat, yang biasa diperdangkal oleh mata pandang parsial: ekonomi, politik, dan terutama kekuasaan praktis.”

Dari puisi, cerpen, esai, dan teater, pada awal dekade 1990-an Cak Nun merambah musik. Kelompok musiknya yang disebut Kiai Kanjeng adalah modifikasi format dari musik gamelan yang dipakai mengiringi pementasan Pak Kanjeng. Album pertama Kiai Kanjeng bertajuk Kado Muhammad rilis pada 1995 dengan hits andalan “Tombo Ati”.

Bersamaan dengan itu Cak Nun juga merintis sebuah forum kajian yang disebut pengajian Padhang Mbulan. Awalnya forum itu adalah agenda keluarga besarnya saja. Pengisinya adalah Cak Fuad dan Cak Nun sendiri. Namun kemudian forum ini dikembangkan menjadi lebih inklusif.

Forum ini adalah adalah respons Cak Nun atas banyaknya permintaan masyarakat untuk bertemu dan berdialog. Dibuatlah kemudian wadah pertemuan kultural sebulan sekali di Menturo, Jombang, kampung halaman Cak Nun pada 1992. Menurut Sumasno Hadi, yang membedakan Padhang Mbulan dengan pengajian lainnya adalah tafsir kontekstual atas Alquran dan dekonstruksi pemikiran yang dibawakan Cak Nun.

Forum inilah yang nantinya berkembang menjadi apa yang kini disebut Jamaah Maiyah. Maiyah merupakan derivasi dari kosakata Arab ma’a yang artinya bersama atau kebersamaan. Cak Nun dan penggiat Maiyah membentuk forum ini sebagai wadah saling belajar. Ia tak bermaksud membuat forum advokasi, tetapi mengajak orang sama-sama memecahkan suatu masalah sosial.

“Maiyah memiliki substansi nilainya yang menurut Emha sebagai sebuah metode melingkar, di mana semua orang bersama-sama menekuni sesuatu hal, bukan satu nonton satu ditonton,” terang Sumasno Hadi dalam bukunya (hlm. 104).

Forum Maiyah adalah koreksi Cak Nun atas Padhang Mbulan yang kian hari hanya jadi ajang orang menonton pertunjukan Cak Nun dan Kiai Kanjeng belaka. Lagi pula, ia tak ingin orang malah terjebak pada kultus individu atas dirinya.

“Yang saya tawarkan itu bukan Maiyahnya, bukan sayanya, bukan Kiai Kanjengnya. Tetapi gagasannya,” tegas suami aktris-penyanyi Novia Kolopaking ini yang dikutip Sumasno Hadi (hlm. 105).

Forum pertama Maiyah diselenggarakan di Jakarta dengan nama Kenduri Cinta pada 1998. Dari sana forum Maiyah lalu menyebar ke beberapa kota. Di antaranya: Mocopat Syafaat di Yogyakarta, Gambang Syafaat di Semarang, Bangbang Wetan di Surabaya, Obor Ilahi di Malang, Paparandang Ate di Sulawesi Selatan, Tali Kasih di Bandung, dan Tombo Ati di Surakarta.

“Ada cukup alasan untuk mengatakan bahwa gabungan antara semangat sosial dan Islam inilah yang telah menjadikan Emha seorang seniman yang unik sekarang. Tanpa kenal kompromi dengan penguasa, ia telah melawan orang terkuat di negerinya, namun tidak ada pintu yang tertutup baginya,” tulis Betts mengomentari perjalanan hidup Cak Nun (hlm. 24).

Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Ivan Aulia Ahsan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *