Budaya Mandar sebagai akar dari Pancasila.

Misa’ kada di potuo, pantan kada di pomate”,  (satu kata dan perbuatan)

Meninjau realitas budaya yang eksis di tengah-tengah masyarakat. budaya menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat sebagai seorang manusia dengan potensi akal. Budaya yang lahir dari interaksi dua hal dimana respon manusia terhadap lingkungan dan lingkungan sebagai penghasil produk budaya. Bentuk ekspresi dari masyarakat yang menghasilkan suatu budaya sebagai indikator tolak ukur kualitas manusia

Sejumlah cita-cita, nilai, dan standar prilaku yang didukung oleh sebagian warga masyarakat, sehingga dapat dikatakan kebudayaan selalu pada setiap rumpun masyarakat di muka bumi. Meskipun demikian penting untuk disadari bahwa semua itu bukan berarti keseragaman. Dalam setiap masyarakat manusia, tedapat perbedaan-perbedaan kebudayaan khas dan unik. Kemudian kebudayaan dapat dipahami sebagai identitas suatu rumpun masyarakat bersangkutan.

Awalnya kata “Mandar” itu bukanlah suatu penamaan yang terkait dengan geografis dan demografis, tetapi merupakan kumpulan nilai-nilai yang bertitik tolak pada system nilai budaya luhur yang berasal dari kata “way marandanna o di ada’ o dibiasa” (kejernihan dari adat dan kebiasaan leluhur). Untuk menjadi orang mandar seseorang wajib mengenal inti dari nilai passemandaran (rasa mandar) merupakan puncak nilai yang terkandung didalam tallu ponna atongangan (tiga dasar kebijakan) yaitu; pertama, Mesa Pongnge PallagaI (aspek ketuhanan). Kedua, da’dua tassisara’ (aspek hukum dan demokrasi). ketiga, tallu tammalaesang (aspek ekonomi, keadilan dan persatuan) – Prof. Dr. Darmawan Mas’ud Rahman, M.Sc

Budaya Mandar menjadi bentuk nyata tingkah manusia dalam menjalani kehidupan yang bertumpu pada sistem nilai mandar dan dengan tetap berpegang pada kebenaran dan martabatnya. Nilai-nilai yang diwariskan oleh leluhur dijadikan arah dalam bertindak dan berlaku sebagai dasar yang tertanam dalam kehidupan orang Mandar. Bagi masyarakat Mandar, budaya menjadi hal paling menonjol dalam kehidupan sehari-hari. Budaya berkaitan erat dengan martabat, harga diri dan kehormatan. Ketiga hal ini memberikan ruang kepada impilkasi berlakunya sebuah tindakan.

Masyarakat Sulawesi Barat telah lama memeluk budaya mandar sebagai norma sosial dalam masyarakat. Bentuk regulasi secara abstrak dalam menilai suatu tradisi.  Tradisi budaya ini yang memberikan kesepahaman dalam model berperilaku dalam masyarakat yang kuat. Pola kehiduapan berbudaya yang telah berlangsung sejak dulu menjadikan perilaku mastarakat menjadi wariana dari generasi ke generasi. . Warisan inilah yang menjadi dasar , prinsip dan ide pemikiran bagi masyarakat Sulbar dalam tantangan era globalisasi, digitalisasi untuk tetap berada di koridor kemandaran. Konsep-konsep kebijakan dan nilai nilai kemandaran dalam sejarah memberikan presepsi yang satu visi dengan Pancasila. Kesepakatan, penegakan hukum, pencarian kebenaran, demokrasi, otonomi daerah, konsep sebuah kepemimpinan, persatuan dan masih banyak lagi.

Di Provinsi Sulawesi Barat, Integrasi nilai – nilai Pancasila sudah tumbuh sejak dulu. Bahkan sebelum Sulawesi Barat atau Mandar menjadi bagian dari Indonesia,  Istilah dalam bahasa Mandar “Misa’ kada di potuo, pantan kada di pomate”,  yang artinya satu kata dan perbuatan yang merupakan nilai-nilai yang dibuat ratusan tahun yang lalu sebelum ada Indonesia. Sebelum mengenal Pancasila, nilai-nilai tersebut sudah ada . 2 bentuk kebudayaan besar terkenal di Mandar atau Sulawesi Barat, yaitu untuk daerah pegunungan dikenal dengan Pitu Ulunna Salu (7 kerajaan besar di hulu) dan Pitu babana binanga (7 kerajaan besar di muara) untuk daerah pesisir atau pinggir pantai.  Budaya ini mengartikan bahwa  sebelum orang mengenal tentang negara-negara konfederasi, orang Mandar sudah punya konfederasi. Konfederasi dari perpaduan dua budaya besar dimana ada 14 kerajaan yang bersatu menjadi bangsa yang besar yaitu Mandar tersebut. Nilai Budaya berumur ratusan tahun. Hal tersebut menunjukkan tingginya kearifan lokal yang ada di Sulawesi Barat.

Nilai-nilai Pancasila digali dari akar-akar tradisi budaya. Pancasila merupakan kristalisasi dari budaya-budaya lokal yang ada di Indonesia. Penerimaan Pancasila dengan keragamannanya. Lima sila dalam Pancasila sudah menunjukan keberagamannya sejalan dengan Bhinneka Tunggal Ika yang merangkum segala perbedaan.

Aktualisasi Pancasila di Sulawesi barat berjalan dengan baik dan sesuai dengan koridornya. Intrik ataupun kondisi, riak sebagai bagian yang umum terjadi dalam dinamika kehidupan. Menjaga Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dapat diwujudkan dengan kesediaan untuk menerima perbedaan pendapat. Kesediaan bersatu dalam perbedaan asal usul dan perbedaan , keragaman bahasa. Ragam budaya serta bahasa  yang berbeda di tiap tempat tapi tetap saling menerima satu dengan yang lain. Bhinekka tunggal ika yang berarti berbeda beda tapi tepat satu itulah yang mengharuskan untuk menyatukan perbedaan yang ada.

Pengamalan nilai-nilai Pancasila merupakan hal-hal yang selalu dijumpai dalam kehidupan bermasyarakat di wilayah Sulawesi Barat. Kebudayaan asli Sulawesi Barat menjadi bentuk sederhana dari nilai Pancasila yang sudah dilakukan sejak dulu. Menanamkan lagi tentang keberagaman budaya Mandar yang searah pada Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

Narasumber : Adi Arwan Alimin, S.Pd

-vids

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *