Pekan Kebudayaan Aceh : Pagelaran Budaya Terbesar Provinsi Aceh Pada Agustus 2018

Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) akan digelar kembali pada tanggal 5-15 Agustus 2018. Pagelaran Kebudayaan yang rutin disajikan setiap 4 tahun sekali oleh pemerintah Provinsi Aceh sangat dinantikan oleh masyarakat Aceh. Dengan tema “Aceh Hebat Dengan Adat Budaya Bersyariat” PKA akan dirangkai dengan berbagai kegiatan yang sangat menarik untuk disaksikan seperti, Pameran Budaya, Sejarah dan Kuliner, Pagelaran Seni Tradisional dan Kontemporer, Berbagai Lomba dan Atraksi Budaya, Anugrah Budaya, Seminar dan Pertemuan Bisnis. Kegiatan ini diikuti oleh ribuan peserta yang datang langsung dari 23 Kabupaten maupun Kota se-Provinsi Aceh untuk menampilkan berbagai budaya yang berbeda tiap daerahnya.

PKA akan dibuka di Stadion Harapan Bangsa, Lhong Raya Kota Banda Aceh dan direncanakan dibuka langsung oleh Presiden RI, Bapak Ir. H. Joko Widodo dan dihadiri oleh utusan berbagai Provinsi di Indonesia. Tidak hanya tokoh nasional yang hadir pada PKA tahun ini, Negara sahabat (Asean) dan juga beberapa negara Timur Tengah yang diundang akan hadir melihat secara langsung pagelaran PKA ini.

Terdapat 16 lokasi acara yang tersebar di berbagai penjuru Kota Banda Aceh dan dimeriahkan oleh 7.447 peserta yang mengisi rangkaian acara. 16 Lokasi tersebut diantaranya :

1. Anjong Mon Mata, berada di Kompleks Pendopo Gubernur Aceh. Aula yang berkapasitas 500 orang itu diresmikan pada 1981 oleh Presiden RI Soeharto sebagai salah satu sarana kebudayaan di Aceh. Gedung ini kemudian sering digunakan sebagai tempat pelaksanaan berbagai acara milik pemerintah maupun swasta.

2. Auditoriun FKIP Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), merupakan salah satu kampus terkemuka di Aceh. Unsyiah terletak di kawasan Kopelma Darussalam di Kota Banda Aceh. Kampus ini selain berfungsi sebagai institusi pendidikan, juga keap menjadi venue untuk event pendidikan tingkat lokal, nasional, dan internasional. Gedung Auditorium FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) salah satu tempat terbaik untuk mengadakan seminar di Unsyiah.

3. Hotel Hermes Palace, merupakan hotel bintang empat yang pertama kali hadir di Kota Banda Aceh. Memiliki kapasitas 163 kamar dan satu unit ball room yang mampu menampung hingga 500 orang lebih. Hotel ini sering dijadikan tempat pelaksanaan kegiatan expo, seminar, table top, dan event pariwisata seperti menjadi venue utama kegiatan Pasar Wisata Indonesia (Tourism Indonesia Mart & Expo/TIME) 2014. Hermes Palace sudah naik level menjadi hotel bintang lima sejak 2018.

4. Jembatan Lamnyong Krueng Aceh (Sungai Aceh) adalah sebuah sungai di Pulau Sumatera yang berhulu di pegunungan Aceh Besar mengaliri sebagian besar wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar dan bermuara di Selat Malaka. Di Banda Aceh, aliran Krueng Aceh dapat dilihat dari Jembatan Lamnyong (Krueng Lamnyong) dan Jembatan Pante Pirak.

5. Kerkhoff Poetjoet, adalah kuburan prajurit Belanda dan pribumi yang tewas dalam Perang Aceh. Area makam ini terletak di sisi belakang Museum Tsunami. Di gerbang masuk komplek ini, ditulis 2.000 lebih nama-nama tentara yang dimakamkan di Kerkhoff Poetjoet.

6. Lapangan Tugu Daarussalam, Lapangan seluas sekitar 4 hektar ini terletak di tengah Komplek Pelajar Mahasiswa (Kopelma) Darussalam, Banda Aceh, yang diapit oleh dua universitas kebanggaan rakyat Aceh, Universitas Syiah Kuala dan UIN Ar Raniry. Terdapat sebuah tugu di tengah lapangan yang menjadi simbol pendidikan Aceh. Tugu ini diresmikan pada tahun 1959 oleh Soekarno, yang menjadi awal lahirnya Kopelma Darussalam.

7. Komplek Meuligoe Wali Nanggroe Aceh adalah pusat perkantoran Lembaga Wali Nanggroe di area seluas 13 hektar. Komplek ini terdiri dari Meuligoe Wali, rumah dinas wali, guest house, mushalla, gedung Katibul Wali, reservoir air, rumah genset dan pos satpam. Gedung utamanya difungsikan sebagai gedung pertemuan, rumah dinas sebagai kediaman wali, serta guest house sebanyak 24 kamar untuk tamu.

8. Lapangan Blangpadang, sebuah lapangan seluas 8 hektare yang berada diantara Jalan Iskandar Muda, Jalan Syekh Muda Wali dan Jalan Prof Abdul Madjid Ibrahim. Di lapangan ini warga Banda Aceh sering melakukan kegiatan olahraga dan menikmati kuliner serta berbagai event. Namun juga menjadi destinasi wisata. Di lapangan ini terdapat Monumen Pesawat RI–001 Seulawah dan Monumen Thanks to The World.

9. Museum Aceh, didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda yang diresmikan pada 31 Juli 1915. Masa itu fisiknya berupa sebuah bangunan rumah tradisional Aceh (Rumoh Aceh). Museum Aceh berasal dari Paviliun Aceh yang ditempatkan di arena Pameran Kolonial (De Koloniale Tentoonsteling) di Semarang pada 13 Agustus-15 November 1914, sebelum dikembalikan ke Aceh pada 31 Juli 1915 untuk diresmikan sebagai Museum Aceh. Setelah Indonesia merdeka, Museum Aceh menjadi milik Pemerintah Daerah Aceh yang berlokasi di Lapangan Blang Padang. Pada tahun 1969, Museum Aceh dipindahkan ke Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah, tempat sekarang ini menjadi salah satu destinasi wisata budaya favorit di Aceh.

10. Stadion Harapan Bangsa atau Stadion Lhong Raya, adalah sebuah stadion sepak bola di Kota Banda Aceh, Aceh. Stadion ini dibangun pada tahun 1997 dan mengalami renovasi setelah bencana Gempa bumi Samudra Hindia 2004 dengan dana bantuan bersumber dari FIFA. Stadion Harapan Bangsa memiliki kapasitas 45000 tempat duduk. Stadion kebanggaan Tanah Rencong ini sempat menjadi salah satu stadion Termegah di Indonesia tahun 2000.

11. Museum dan Perpustakaan Ali Hasjmy diresmikan pada tanggal 18 januari 1991. Museum yang memiliki koleksi belasan ribu buku ini menjadi tujuan mencari referensi bagi masyarakat, pelajar/mahasiswa dari berbagai daerah dan luar negeri. Museum ini ini memiliki 4 ruangan utama, yaitu Ruangan Khatukhanan yang berisikan kitab-kitab kuno awal abad 20, Ruangan Warisan Budaya Nenek Puteh yang mengoleksi berbagai jenis warisan budaya Aceh, Ruangan Khazanah Ali Hasjmy yang menyimpan dokumen-dokumen pribadi milik Prof Ali Hasjmy, dan Ruangan Tekonologi Tradisional Aceh yang menyimpan benda-benda tradisonal Aceh hasil dari kerajinan masyarakat Aceh.

12. Museum Tsunami Aceh di Banda Aceh, dirancang sebagai monumen simbolis menandai bencana gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia 2004 sekaligus pusat edukasi dan tempat evakuasi bencana (escape building) di masa depan. Museum ini merupakan sebuah struktur empat lantai dengan luas 2.500 m² yang dinding lengkungnya ditutupi relief geometris, hasil rancangan arsitek asal Bandung, Ridwan Kamil. Museum Tsunami memiliki beberapa bagian penting seperti Ruang Memorial Hill, Ruang the Light of God, dan Tsunami Exhibition Room.

13. Taman Budaya Aceh berlokasi di Seutui, Banda Aceh. Taman Budaya menjadi venue bagi event-event seni dan budaya. Tersedia panggung indoor dan outdoor dengan area parkir yang cukup luas. Taman ini di kelola oleh UPTD Taman Seni dan Budaya di bawah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh.

14. Taman Sulthanah Safiatuddin, sudah menjadi lokasi utama penyelenggaran Pekan Kebudayaan Aceh sejak PKA-IV tahun 2004. Taman ini memiliki rumah adat (anjungan) dari kabupaten/kota se- Aceh, yang saat ini terdapat 23 anjungan kebudayaan. Masing-masing anjungan itu mewakili kebudayaan daerahnya sendiri. Jika ingin melihat kebudayaan Aceh secara keseluruhan, kompleks yang dijuluki Taman Mininya Aceh ini bisa dijadikan referensi. Tak hanya digunakan selama berlangsungnya PKA, Taman Sulthanah Safiatuddin juga difungsikan di hari-hari biasa dan sering menjadi venue event seni dan budaya.

15. Taman Gunongan, dibangun bersamaan dengan Taman Putroe Phang, dulunya berada dalam satu kompleks Taman Bustanussalatin. Bentuknya berupa miniatur tiga pegunungan yang biasa dilihat oleh istrinya Putri Kamaliah di Negeri Pahang, Malaysia. Keberadaan taman ini benar-benar melipur rindu Sang Permaisuri. Kini Gunongan menjadi salah satu tujuan favorit wisatawan di Banda Aceh. Detailnya dapat dilihat di halaman Destinasi Wisata Favorit di Aceh.

16. Taman Bustanussalatin dulunya bernama Taman Ghirah atau dikenal Taman Sari dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1514 M. Pada masanya, Taman Sari menjadi tempat bermain keluarga sultan.Kompleks Taman Sari membentang di sepanjang Krueng Daroy; melintasi Gunongan, Pinto Khop, Kandang, Pulau Gajah, dan Masjid Raya. Taman Bustanussalatin yang beralamat di Kampung Baruk ini berfungsi sebagai ruang terbuka hijau di tengah kota dan menjadi lokasi penyelanggaraan berbagai event.

Dengan adanya PKA ini, pelestarian budaya merupakan salah satu kekayaan yang dimiliki oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia akan tetap terjaga dan dijalani oleh semua kalangan. Pagelaran Kebudayaan juga mengingatkan akan Sejarah pada suatu daerah sehingga memiliki adat istiadat yang menjadi ciri khas. Tunggu apa lagi? untuk melestarikan budaya jangan menunggu orang lain untuk bergerak terlebih dahulu, tapi kita harus berinisiatif. Datang dan meriahkan PKA agar kita bisa mengetahui beragam budaya di Provinsi Aceh dan menggerakan seluruh masyarakat Indonesia untuk ikut andil dalam melestarikan Budaya.

 

Penulis: Ahmad Setiawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *