Habibie dan Kebangkitan Rupiah 1998

nusantararesearch.com – Masih teringat di benak kita semua bagaimana rupiah menyentuh Rp16.800 per 1USD pada Juni 1998. Rupiah yang anjlok pada zaman kepemimpinan Bapak Soeharto ini membuat keuangan bangsa morat-marit, timbul kekacauan hingga kerusuhan dimana-mana, hal ini tidak lain disebabkan oleh daya beli masyarakat yang drastis menurun sehingga masyarakat hampir tidak mampu membeli kebutuhan mereka. Krisis moneter yang terus berlanjut hingga berimbas menjadi krisis politik, kemudian ditandai jatuhnya pemerintahan Orde Baru.

Ada beberapa faktor, baik eksternal dan internal yang menyebabkan rupiah melemah pada 1998. Pada kala itu mata uang negara-negara di Asia juga mengalami pelemahan. Diantaranya Baht Thailand, Peso Filipina, Won Korea Selatan, Dollar Hong Kong dan juga Rupiah sendiri. Dari dalam negeri, Paket Oktober (Pakto) 1998 membuat sektor keuangan Indonesia begitu bebas, sehingga dana asing mengalir deras ke perbankan dan pasar modal. Begitu pemerintah melepas nilai tukar sesuai harga pasar, rupiah justru semakin melemah. Perlahan tapi pasti investor asing kehilangan kepercayaan dan meninggalkan Indonesia. Rupiah yang sudah jatuh semakin terpuruk. Gejolak ini berimbas ke seluruh sendi perekonomian. Perusahaan-perusahaan yang kala itu begitu nafsu melakukan ekspansi bermodal utang dari luar negeri menjadi kalang-kabut. Hutang yang harus mereka bayar membengkak karena pelemahan rupiah. Akibatnya banyak perusahaan yang kolaps, perbankan pun terkena getah. Kredit macet dimana-mana membuat bank merugi.

Pada kala itu faktor lain penyebab mata uang negara-negara di Asia jatuh adalah ulah para spekulan di pasar keuangan. Saat itu negara-negara Asia masih menganut nilai kurs yang ditentukan dan diintervensi oleh bank sentral, bukan mengambang sesuai mekanisme pasar.

Bacharuddin Jusuf Habibie diangkat menjadi presiden setelah Soeharto memutuskan mundur dari jabatannya, Beliau berusaha keras agar rupiah tak terus melemah dengan berbagai cara. Tidak mudah perjuangannya, Presiden Habibie mendapatkan tekanan dari dalam negeri, intervensi ekonomi yang dipaksakan International Monetary Fund (IMF). Lembaga moneter yang memaksa Indonesia agar menghapus kebijakan subsidi, terutama BBM dan TDL. Namun hal tersebut ditolak Habibie. Berat bagi Habibie mempertahankan harga BBM bersubsidi agar tetap terjangkau oleh rakyat yang terpuruk akibat krisis. Harga Premium saat itu dipatok Rp1.000 dan Solar Rp550. Keputusan ini tentunya dikritik tajam oleh IMF. Pada akhirnya Presiden Habibie berhasil mengendalikan angka rupiah menjadi berada di bawah Rp7.000 jelang akhir masa pemerintahaannya.

Solusi dari Habibie

Kebijakan yang dikeluarkan Habibie untuk memperkuat perekonomian nasional kala itu adalah dengan melakukan restrukturisasi dan rekapitulasi perbankan dengan membentuk BPPN dan unit Pengelola Aset Negara, kemudian dilanjutkan dengan melikuidasi beberapa bank bermasalah. Habibie juga membentuk lembaga pemantau dan penyelesaian masalah utang luar negeri serta mengimplementasikan reformasi ekonomi yang disyaratkan IMF. Untuk mendukung seluruh kebijakannya, Habibie mengesahkan UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan yang Tidak Sehat serta UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Menurut Analis Millenium Penata Futures, Suluh Adil Wicaksono, upaya ini cukup berhasil karena Habibie tidak menganut sistem pasar bebas hingga membuat dollar berhasil ditekan. Upaya ini ternyata sukses membuat rupiah terus menguat terhadap dollar. Saat itu menyampaikan laporan pertanggungjawaban di hadapan MPR nilai rupiah berada di level Rp6.500, suatu pencapaian yang belum bisa diikuti oleh Presiden setelahnya.

Dukungan masyarakat

Pada 1998 ada gerakan yang bernama “Gerakan Aku Cinta Rupiah” yaitu gerakan moral untuk menukarkan dollar AS kepada rupiah, terutama bagi para pengusaha yang orientasinya ekspor ataupun jasa keuangan perbankan.

Bagaimana dengan 2018?

Pemerintah sudah berusaha keras dan melakukan berbagai upaya untuk terus memperkuat rupiah. Hasilnya? pagi ini (6/9) kurs rupiah menguat menjadi Rp14.880 per 1USD, tentunya usaha tidak akan membohongi hasil. Meskipun angka ini masih terbilang tinggi, namun usaha pemerintah untuk menguatkan nilai rupiah sudah mulai terlihat dan mencapai titik terang.

Dilansir dari laman liputan 6 (5/9) Bakal Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno memutuskan mengkonversi aset dollar yang dia miliki sebanyak 35%. Hal tersebut ia lakukan untuk menaikkan nilai tukar rupiah yang kian melemah terhadap dollar AS. “Ini waktunya membela negara, jangan sampai terpecah-belah. Untuk konglomerat, saya sudah mengkonversi simpanan saya ke rupiah. ini waktunya sama-sama membela negara.” ucap Sandiaga di GOR Bulungan (5/9). Hal yang dilakukan Sandiaga adalah benar, lupakan dulu kerasnya politik, lupakan dulu soal pemilu, ini tentang negara, ini tentang bangsa, menjual dollar jangan ragu, demi Rupiah kembali nomor satu.

Sebuah Negara terdiri dari empat unsur, yaitu wilayah, rakyat, pemerintahan dan pengakuan dari negara lain. Negara tidak hanya pemerintah, terdapat unsur rakyat atau penduduk yang juga harus ikut mendukung jalannya pemerintahan, tanpa adanya rakyat yang mendukung berjalannya suatu pemerintahan, maka salah satu unsur dari sebuah negara sudah hilang dan bisa menyebabkan negara tersebut hancur.

Oleh karena itu mari kita sebagai warga negara yang baik membantu perekonomian negara dengan cara membeli produk lokal dan buatan dalam negeri, menunda membeli handphone dan barang elektronik, mari menukar dollar ke rupiah, menunda jalan-jalan keluar negri, dan tentunya menggunakan transportasi publik.

Penulis : Afrizal Adam
Editor : Nahdamar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *