Merindukan Pemikiran Almarhum CaK Nur “Islam Yes, Partai Islam No” untuk Membendung Politik Identitas

Politik tidak elok menggunakan agama sebagai alat propaganda dan provokasi yang menggiring opini untuk menimbulkan perpecahan padahal muara akhir dari politik adalah kesejahteraan.

Fenomenal, sepertinya satu kata itu cocok disematkan kepada Alm. Prof. Nurcholish Madjid (akrab disapa Cak Nur). Banyak pencapaiannya yang sulit untuk disamai oleh generasi penerusnya. Pertama, sampai hari ini, ia satu-satunya sosok yang menjabat Ketua Umum PB HMI untuk dua periode. Kedua, gagasan Keislaman-Keindonesiaan yang dicetuskannya puluhan tahun lalu masih sangat relevan sampai hari ini. Tidaklah berlebihan jika banyak akademisi menyebut gagasannya melampaui zamannya. Cak Nur sudah belasan tahun tiada, tapi ide “Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan”, “Islam Doktrin Peradaban”, “Indonesia Kita”,  “Menembus Batas Tradisi” dan puluhan pemikiran lainnya seolah hadir dan rindu untuk dihadirkan dalam menghadapi tahun politik ini.

Satu setengah tahun menjelang Pemilu 1971, di acara halal bi halal bersama Gerakan Pemuda Islam (GPI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan Pelajar Islam Indonesia (PII). Dia membawakan pidato berjudul “Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat”. Pada gelaran tersebut terlontarkan sebuah kalimat sederhana “Islam Yes, Partai Islam No”. Tidak ada makna filosofis yang istimewa pada kalimat tersebut, hanya saja karena dikeluarkan oleh seorang tokoh keagamaan (saat itu dia menjabat Ketua Umum PB HMI 1969-1972-pen) di tengah gonjang-ganjing politik makanya berujung pada sebuah polemik yang mendapatkan dukungan dan penolakan dalam waktu bersamaan.

Pandangan Cak Nur adalah deskripsi zaman itu dimana politisasi agama cukup gencar digalakkan. Cak Nur memandang bahwa Islam bukanlah dengan sebuah penyimbolan tetapi mengacu kepada hal yang substansial. Dalam konteks partai sebagai instrumen politik, bukan dengan menonjolkan simbol-simbol Islam tetapi dengan menghadirkan nilai keislaman dalamnya. Ibarat gula dalam air, tidak terlihat bentuknya tetapi dirasakan manisnya. Dalam berpolitik tidak menunjukkan simbolnya tapi mengaplikasikan nilai-nilainya.

Anda boleh sepakat ataupun menolak gagasan Cak Nur “Islam Yes, Partai Islam No”. Ini bentuk keprihatinan, politik identitas yang menjadikan agama hanya sebagai sebuah jargon, kehilangan spiritualitas, dan dibungkus serta dilabeli sedemikian rupa hanya untuk mendapatkan dukungan dan dulangan suara.

Spirit Islam adalah keberserahan diri pada Tuhan Yang Maha Esa, cinta dan kasih serta menjunjung tinggi kemanusiaan dan kepada makhluk hidup lainnya bahkan juga kepada yang tidak bernyawa terkesan hanya slogan semata. Yang marak adalah politik identitas, isu primordial dan SARA. Membayangkan saja sudah sangat menakutkan, berbeda pandangan politik adalah “berbeda” dalam beragama dalam pandangan politisi pengusung politik identitas.

Agama adalah sebuah realitas untuk mencapai hidup yang ideal. Sering disalahgunakan kelompok tertentu yang menganggap dirinya “lebih beragam” menjadi batu pijakan untuk mencapai kekuasaan. Dalam kata lain, agama dijadikan tumbal syahwat politik.

Semestinya agama adalah spirit membangun bukan alat dikotomi dalam konstelasi politik. Semangat progresif dan inklusif berbagai agama adalah modal besar untuk mewujudkan kehidupan Indonesia yang adil makmur. Nilai spiritualitas harus diwujudkan dalam kerja intelektual dalam mencapai tujuan hidup berbangsa, bukan dijadikan sebagai alat pemuas syahwat politik.

Ranah Filsafat Masa Lalu dan Niatan Nyapres

            Dibalik pemikiran kritisnya terhadap politisasi agama, perlu diketahui bahwa Cak Nur adalah anak KH. Abdul Madjid (tokoh Partai Masyumi Jombang, Jawa Timur). Gagasan dan ide-ide menentang keras politisasi agama adalah sebuah perjalanan panjang dan deskripsi atas parpol berhaluan islam dikala itu.

Menyelesaikan studi kesarjanaan Bahasa dan Sastra Arab di IAIN Jakarta (sekarang UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Cak Nur melanjutkan studi doktoral di Universitas Chicago bersama dengan Amien Rais dan Mohammad Roem. Cak Nur semakin memasuki ranah filsafat dan menjadi perdebatan pandangan diantara mereka bertiga berawal dari artikel yang dimuat di majalah Panji Masyarakat yang berjudul “Tidak Ada Negara Islam”.

Setelah menyelesaikan studi doktor, Cak Nur aktif menyuarakan gagasan pembaharuan, menolak politik identitas, menolak propaganda atas simbol yang mengenyampingkan substansi.

Sebuah proses panjang menyeret nama Cak Nur dalam panggung politik Indonesia, tepatnya di tahun 2003 Cak Nur maju konvensi Calon Presiden dari Partai Golkar.  Konvensi itu digelar untuk mencari calon presiden yang akan diusung oleh Partai Golkar.

Di tengah maju konvensi Partai Golkar, Cak Nur pernah meminta dukungan kepada Partai Keadilan (kini menjadi Partai Keadilan Sejahtera) untuk maju sebagai calon presiden di Pemilu 2004. aat meminta dukungan itulah, Hidayat Nur Wahid mempertanyakan pernyataan Cak Nur, ‘Islam Yes, Partai Islam No’. Kepada Nurcholis Madjid, Hidayat bertanya, “Bagaimana Anda meminta dukungan dari kami yang partai Islam, sementara Anda pernah mengatakan, Islam Yes Partai Islam No?”.

Cak Nur mengoreksi pernyataanya menjadi ‘Islam Yes, Partai Islam Yes’. Hidayat dan sejumlah petinggi Partai Keadilan saat itu sempat kaget.

Namun kemudian Cak Nur memberikan penjelasan. Kalimat, “Islam Yes Partai Islam No” muncul tahun 1970 saat kondisi partai Islam belum bisa menjadi wahana aspiratif dan harapan bagi masyarakat. Ketika itu Partai Islam belum bisa mengemas secara apik bahasa agama ke dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang plural.

Tapi begitu Cak Nur melihat PK yang ketika itu kelahirannya dibidani oleh tokoh-tokoh lulusan Eropa dan Timur Tengah, paradigmanya soal Partai Islam berubah. Sehingga selain dari konvensi Golkar, dia pun coba meminta dukungan dari PK untuk maju sebagai calon presiden 2004. Cak Nur kemudian memilih mundur dari konvensi Golkar dan tak pernah lagi maju sebagai calon presiden.

 

Oleh karena itu, saya percaya almarhum Cak Nur, “Islam Yes, Partai Islam No” (Rizal)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *