Setelah Hoax, Terbitlah Verifikasi

nusantarareserach.com – Kata hoax pada zaman milenial ini kerap kali kita dengar, pada zaman serba canggih dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat, dimana informasi dapat disebarkan dengan mudah tidak hanya melalui media cetak dan televisi, tetapi juga melalui media sosial dan online. Dari sekian banyak informasi yang kita konsumsi hari ini, berapa banyak yang merupakan fakta? berapa banyak yang merupakan kebohongan atau sering disebut hoax?

Ada sebuah pertanyaan “Kota manakah yang merupakan Ibu kota Amerika Serikat? California Atau New York?”. Jika anda memilih salah satu dari kota diatas, maka dapat dipastikan anda salah karena Ibu Kota Amerika adalah Washington DC. Pikiran anda lebih terfokus pada pilihan jawaban yang disediakan tanpa mengetahui apakah pertanyaan tersebut benar atau salah. Pimpinan Redaksi Jurnal Cognition seorang Professor Ilmu Kognitif dari Brown University Steve Sloman mengatakan “Orang-orang lebih mengandalkan jawab intuitif yang langsung muncul di kepala mereka, daripada merenungkan dan mengecek jawaban tersebut benar atau salah” jelasnya.

Ditambah lagi dengan konsep “Naïve Realism” yaitu seringnya anda mengkonsumsi informasi yang didukung oleh kepercayaan yang anda miliki, baik itu dalam bidang politik, hukum atau bidang lainnya. Hal ini membuat anda begitu yakin mendukung informasi itu karena anda merasa sudah memiliki dasar akan perihal informasi tersebut, yang membuat anda tentunya tidak lagi membutuhkan verifikasi atas informasi tersebut. Sehingga anda menganggap informasi lain yang tidak sependapat dengan anda adalah tidak benar.

Sebuah solusi dari hoax bernama verifikasi
Pada akirnya verifikasi adalah satu-satunya cara untuk melawan informasi hoax. Perspektif atau sudut pandang yang berbeda dari sebuah informasi patut dimiliki oleh setiap orang pada zaman ini, sehingga tidak mudah meyakini informasi hoax. Tentunya dengan perkembangan dan kemajuan teknologi pada saat ini verivikasi dapat dengan mudah dilakukan, dapat dengan cara online menggunakan mesin pencarian google adalah cara tercepat yang bisa dilakukan. Namun memang ada saatnya dimana informasi-informasi berskala kecil atau lebih mengarah ke kehidupan pribadi tidak tersedia di mesin pencarian google, namun anda tetap dapat mengumpulkan informasi dari orang-orang sekitar yang tentunya memiliki pandangan berbeda.

Contoh kasus
Sebuah contoh yang saat ini dekat dan berkaitan dengan topik terkini yaitu Bakal Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno menjual sebagian asset dollar AS miliknya, sebagai salah satu tindakan simbolis mendukung pemerintah memperbaiki nilai rupiah. Hal ini adalah benar adanya, namun ada poin dimana kalimat tersebut tidak 100% benar, seperti “sebagian asset”. Pada pernyataannya Sandiaga menjual 35% asset dollarnya, kenyataannya ia hanya menukarkan sebesar 1000$. Tentunya kita bertanya-tanya, apakah benar 35% dari asset dollar yang dimiliki Sandiaga hanya bernilai 1000$? Mari kita verifikasi, dilansir dari laman merdeka.com (6/9) “Dalam catatan LKHPN itu, Sandi tercatat memiliki surat berharga sebesar Rp 3,7 triliun dan USD 1,3 juta. Dan Giro dan setara kas lainnya sebesar Rp 12,9 miliar dan USD 30,2 juta” yang artinya jika Sandiaga menukarnya 100% asset dollarnya bernilai tidak lebih dari 3000$, jumlah ini jauh dibawah data yang ada.

Mari kita berhenti sampai disini dan tidak melanjutkan permasalahan tersebut, karena hal diatas merupakan contoh verifikasi dari sebuah informasi. Tentunya hal yang dicontohkan Sandiaga ini merupakan hal yang sangat baik, Sandiaga juga mengajak konglomerat lain untuk menukar asset dollar yang dimiliki, disisi lain Sandiaga juga mendapatkan keuntungan dari dollar yang dijualnya karena perbedaan kurs, jadi jangan ragu untuk segera menukarkan asset dollar yang anda miliki.

Adakah hoax yang bernilai positif?
Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Djoko Setiadi mengatakan “Hoax ada positif dan negatif. Saya juga menghimbau pada kawan-kawan putra-putri bangsa ini, mari sebenarnya kalau hoax itu hoax membangun kita silahkan saja”. Hoax yang disebar tidak selalu berisi nilai negatif, terkadang juga berisi nilai-nilai positif yang membangun. Namun hoax tetaplah hoax, tidak ada yang namanya hoax membangun, tidak ada sebuah kebohongan yang bernilai baik selamanya, menyimpan hoax seperti layaknya menyimpan bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Sepenuhnya sebuah informasi harus bernilai membangun dan berdasarkan fakta.

Pemilu 2019
Menjelang Pemilu 2019 ini tentunya akan ramai dan menjadi polemik. Banyak pihak yang mungkin tidak hanya membuat dan menyebarkan hoax, tetapi juga melakukan “balck campaign” atau lebih sering dikenal dengan kampanye hitam. Kampanye hitam lebih kearah fakta namun dikemas sebagai kampanye negatif dan menjatuhkan lawan politik. Polri sejauh ini sudah bekerja dengan maksimal untuk melakukan penegakan hukum. Namun jumlah masyarakat jauh lebih banyak dari jumlah apparat, sehingga perlu kesadaran dari masyarakat sendiri untuk mulai belajar bagaimana memverifikasi sebuah informasi, melihat informasi dari sudut pandang yang berbeda dan menilai kebenaran dari informasi tersebut.

Penulis : Afrizal Adam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *