Sebuah Kehormatan Menjadi Tuan Rumah Pertemuan Tahunan IMF – WBG 2018

nusantararesearch – Annual Meetings (AM) International Monetary Fund (IMF) – World Bank Group (WBG) adalah pertemuan tahunan yang diselenggarakan oleh Dewan Gubernur IMF dan WBG. Annual Meetings dilaksanakan setiap tahun sekali pada awal Oktober di kantor pusat IMF-WBG di Washington DC, Amerika Serikat selama dua tahun berturut-turut. Sementara untuk tahun berikutnya, Annual Meetings dilaksanakan di negara anggota terpilih.

Sidang Tahunan ini juga merupakan forum pertemuan terbesar bidang ekonomi, keuangan, dan pembangunan di tingkat global, yang mempertemukan pihak pemerintah (Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral) dari 189 negara, dan pihak non pemerintah yang menguasai sektor keuangan dan ekonomi dunia.

Pertemuan tersebut bertujuan untuk mendiskusikan perkembangan ekonomi dan keuangan global serta isu-isu terkini, antara lain: i) pengurangan kemiskinan; ii) pembangunan ekonomi internasional; dan iii) isu-isu global lainnya.

Setiap tiga tahun sekali, negara-negara di dunia bersaing untuk menjadi tuan rumah Annual Meetings IMF-WBG. Hal ini tidak mengherankan karena besarnya manfaat bagi perekonomian saat sebuah negara menjadi tuan rumah pertemuan. Manfaat yang akan diraih oleh negara tuan rumah antara lain dapat mempromosikan destinasi investasi, wisata, pusat penyelenggaraan event internasional, maupun untuk menunjukkan kemajuan dan stabilitas ekonomi negara tuan rumah.

Selain itu, lokasi penyelenggaraan juga akan menikmati manfaat secara langsung dari kontrak bisnis untuk mensuplai kebutuhan penyelenggaraan Annual Meetings. Sektor pariwisata dan industri MICE (Meetings, Incentives, Conferences, Events) juga akan mendapatkan manfaat langsung dari penyelenggaraan event-event lain, serta pengeluaran dari para delegasi/peserta. Tak kalah penting ialah manfaat jangka panjang dari promosi tempat yang menjadi lokasi penyelenggaraan, sebagai destinasi kunjungan wisata kelas dunia.

Tidak heran apabila banyak negara bersaing untuk bisa terpilih sebagai tuan rumah Annual Meetings IMF-WBG yang diselenggarakan setiap 3 tahun sekali di luar Amerika. Bahkan untuk tahun 2021 mendatang, sudah ada 21 negara yang mendaftar dan bersaing untuk menjadi negara tuan rumah.

AM 2018 di Bali

Tahun 2018 ini, Annual Meetings digelar di Indonesia, tepatnya di Nusa Dua, Bali. Terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah AM IMF-WBG 2018 adalah buah perjuangan tim ekonomi kita dan melalui sejumlah screening yang tidak mudah. Setelah tahun 2014 mengajukan diri, pada bulan Oktober 2015 Indonesia terpilih sebagai tuan rumah Annual Meeting IMF-WBG 2018, menyisihkan Mesir dan Senegal sebagai dua kandidat terkuat lainnya.

AM 2018 akan diselenggarakan pada tanggal 8-14 Oktober 2018. Pertemuan tersebut akan menghadirkan sedikitnya 15 ribu peserta, yang terdiri dari Gubernur Bank Sentral dan Menteri Keuangan dari 189 negara, sektor privat, NGOs, akademisi, dan media.

Selama seminggu, mulai dari tanggal 8 s.d. 14 Oktober 2018, akan berlangsung lebih dari 2.000 pertemuan di tingkat bilateral, regional, dan multilateral, serta berbagai konferensi, seminar, forum dan side events lainnya.

Secara umum, beberapa rangkaian pertemuan pada Annual Meetings 2018 di Bali terdiri atas:

  1. Main Events: Plenary Meeting, Development Committee (DC) Meeting dan International Monetary and Financial Committee (IMFC) Meeting dihadiri oleh seluruh Dewan Gubernur World Bank dan IMF
  2. Side Events: Rangkaian pertemuan (±2.000 pertemuan) yang diselenggarakan bersamaan/ menjelang Main-Events oleh MTS IMF-WBG maupun private sector, berupa pertemuan/gala dinner/lunch meeting/seminar/workshop, antara pelaku bisnis, lembaga keuangan, maupun pertemuan dengan Menteri Keuangan/Gubernur Bank Sentral dari 189 Negara.

Terdapat pula berbagai pertemuan lain yang dilakukan bersamaan dengan waktu penyelenggaraan Sidang Tahunan di Bali, seperti pertemuan para kepala negara ASEAN (ASEAN Leader’s Gathering), pertemuan seluruh lembaga pembangunan internasional dalam Global Infrastructure Forum (GIF) yang tahun ini diselenggarakan oleh ADB (Asian Development Bank), dan sebagainya.

Isu-isu utama yang dibahas dalam Sidang Tahunan 2018 nanti meliputi situasi terkini perekonomian dunia, stabilitas sistem keuangan internasional, upaya pengentasan kemiskinan dan kesenjangan ekonomi, kebijakan lingkungan dan perubahan iklim, penanganan pengungsi dan konflik di fragile states, penciptaan lapangan kerja, ekonomi digital, urbanisasi dan pelayanan publik, good governance dan pencegahan korupsi, human capital, gender, food security, dan lain-lain.

Eksposur

Annual Meetings IMF-WBG 2018 merupakan event internasional terbesar yang pernah ditangani Indonesia. Sebelumnya, Bali pernah menjadi tuan rumah berbagai pertemuan internasional berskala besar seperti pertemuan APEC di tahun 2013 dengan jumlah delegasi sekitar 5.000 orang dari 21 negara, dan pertemuan COP – UNFCCC tahun 2007 dengan jumlah delegasi 10.000 orang dari 189 negara.

Dalam acara AM IMF-WBG 2018 di Bali ini, jumlah negara yang terlibat mencapai 189 negara dengan total delegasi asing jauh lebih besar yang diperkirakan bisa mencapai 18.000 orang, termasuk:

– Lebih dari 400 orang, seluruh Menteri Keuangan,Menteri Pembangunan dan Gubernur Bank Sentral
– Sekitar 20 Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan
– Sekitar 5.000 pejabat tinggi dan delegasi resmi pemerintah dan bank sentral
– 1.000 orang senior manajemen, experts, dan staf IMF dan World Bank Group
– 10.000 orang pengambil keputusan dan eksekutif senior dari organisasi internasional,lembaga keuangan internasional, sektor swasta, akademisi, lembaga think tank, dan NGO
– 2.000 jurnalis dan awak media internasional

Dengan jumlah jurnalis yang demikian besar, bisa dipastikan dunia akan melihat Bali dan Indonesia selama satu minggu di bulan Oktober nanti. Inilah wujud dari besarnya eksposur atas pertemuan tersebut dan Indonesia sebagai tuan rumahnya.

Selain itu, sebagian dari para delegasi/peserta juga akan membawa pasangan dan keluarga untuk memanfaatkan kunjungan ke event AM 2018 ini, sekaligus untuk berwisata di Indonesia yang diperkirakan jumlahnya dapat mencapai 4.000 orang.

Di sisi pariwisata, keberhasilan Indonesia mengoptimalkan berbagai potensi wisatanya akan melahirkan efek ketok tular dari mereka yang mengunjungi destinasi-destinasi wisata di masa depan.

 

Penulis : Afrizal Adam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *