Setiap Akhir Tahun Harga Bahan Pokok Selalu Naik, Kenapa?

Nusantararesearch – Menjelang akhir tahun 2018 tentunya akan terjadi kenaikan harga bahan dan kebutuhan pokok. Kenaikan harga ini dipengaruhi oleh perubahan pada permintaan dan penawaran. Dalam ilmu ekonomi hal ini dinamakan dengan konsep elastisitas permintaan dan penawaran. Elastisitas sendiri diambil dari kata “Elastis” yang berarti mudah berubah atau lentur. Elastisitas adalah pengaruh perubahan harga terhadap jumlah barang yang diminta atau yang ditawarkan.

Masing-masing permintaan dan penawaran memiliki hukumnya sendiri. Hukum permintaan berbunyi “Jika harga barang atau jasa semakin rendah, maka jumlah permintaan terhadap barang atau jasa tersebut cenderung meningkat dan sebaliknya jika harga barang atau jasa tersebut meningkat, maka jumlah permintaan terhadap barang atau jasa cenderung turun.”

Sedangkan, hukum penawaran berbunyi “Kenaikan harga suatu barang dan jasa akan mengakibatkan meningkatnya kegiatan penawaran terhadap barang atau jasa tersebut. Sebaliknya, jika harga semakin rendah maka timbul kecenderungan penawaran terhadap barang atau jasa tersebut yang juga berkurang.”

Lalu hal apa yang dapat membuat jumlah penawaran dan permintaan menurun? Ada banyak faktor yang bisa membuat ketersediaan barang atau jasa berubah, beberapa diantaranya proses produksi, penyimpanan, pendistribusian hingga penjualan. Tidak mudah untuk menjaga ke empat hal tersebut selalu berada pada garis aman sehingga tidak mengganggu ketersediaan produk.

Produksi

Ketika sebuah lahan pertanian gagal panen dikarenakan suatu hal, tentunya akan mengurangi ketersediaan jumlah produk, sementara permintaan ada dan terus meningkat. Hal ini akan mengakibatkan kelangkaan dan kenaikan harga produk tersebut.

Begitu juga dengan sebuah pabrik yang memproduksi berlebihan, ketika produk melimpah di pasar namun permintaan ada namun cenderung menurun maka akan terjadi penurunan harga.

Terkadang beberapa produsen tidak memperhitungkan dengan baik permintaan pasar dan membuat produksi yang berlebih. Hal ini akan berakibat pemborosan bahan dasar sehingga produk akan terbuang percuma.

Penyimpanan

Tidak semua barang bisa langsung didistribusikan atau diterima konsumen setelah di produksi. Seperti beras misalnya, tidak semua beras yang baru dipanen langsung didistribusikan ke konsumen, sebagian yang belum laku terjual akan disimpan dalam gudang dan di edarkan secara berkala demi menjaga kestabilan harga.

Dalam penyimpanan sendiri apabil tidak dilakukan dengan baik dan benar bisa jadi produk yang disimpan akan basi, hancur, busuk atau hal lain yang membuatnya tidak dapat dikonsumsi. Ketika hal ini terjadi maka ketersediaan produk akan berkurang dari yang sudah diperhitungkan.

Distribusi

Pengiriman produk harus tepat waktu dan perencanaan, jangan terlalu dini karena akan menyebabkan penumpukan atau terlambat karena sudah pasti akan terjadi kelangkaan. Distribusi produk tentunya membutuhkan infrastruktur yang memadai, jalur laut dan darat masih menjadi pilihan utama dalam pendistribusian produk. Hal ini yang menjadi fokus dari Presiden Jokowi untuk mengejar pembangunan infrastruktur, tujuannya tidak lain tidak bukan yaitu sebagai tulang punggung kelancaran pendistribusian produk. Karena tanpa infrastruktur yang baik maka tidak akan ada harga kebutuhan murah, tidak akan ada kemudahan dalam memperoleh produk.

Sebagai contoh di Papua, sebagian besar daerahnya belum tercapai jalur darat, harus didistribusikan ulang melalui jalur udara atau jalur air yang terkadang terkendala pasang surut air. Selain terbatasnya kapasitas produk yang bisa didistribusikan, waktu pendistribusian yang akan lebih lama dan membuat biaya distribusi yang lebih tinggi.

Penjualan

Penjualan menjadi tahap akhir sebelum produk jatuh ke tangan konsumen untuk siap digunakan, walaupun ada beberapa konsumen yang membeli langsung dari pusat produksi dan melakukan proses penyimpanan serta distribusi sendiri. Namun secara umum tahap penjualan menjadi tahap paling akhir. Dalam penjualan tentunya penjual akan mengambil margin keuntungan, tidak ada standar pasti yang mengatur tentang margin keuntungan yang diambil penjual, namun biasanya harga yang dicantumkan sudah pasti ada margin keuntungan didalamnya. Hal ini kadang menjadi permainan bagi para tengkulak atau produsen yang memanfaatkan momen-momen tertentu untuk menjual produknya dengan harga yang lebih mahal. Seperti monopoli penjualan LPG 3kg yang tidak seluruhnya di jual ketika selesai didistribusikan, beberapa mungkin di tahan dan disimpan untuk dijual ketika terjadi kelangkaan sehingga didapatkan margin keuntungan yang lebih tinggi.

Fluktuasi kurs juga menjadi alasan beberapa penjual untuk menaikkan harga jual produknya, walaupun ketika kurs sedang turun mereka tidak juga menurukan harga jualnya. Fluktuasi harga BBM, perubahan cuaca, tingkat permintaan, ketersediaan barang, teknik penjualan dan iklan menjadi permainan dari penjual untuk mengatur sendiri margin keuntungan yang dia ambil.

Pada akhirnya meskipun ke faktor produksi, penyimanan dan distribusi berada dalam keadaan normal, jika pada penjualan memanfaatkan momen-momen tertentu maka akan terjadi kenaikan harga, kenaikan harga yang membuat daya beli menurun akan membuat ketersediaan produk banyak namun diluar daya beli. Hal ini yang rentan membuat gerakan-gerakan massa dan warga melakukan aksi unjuk rasa karena produk bahan pokok tersebut berada diluar daya beli.

Untuk tetap memantau standar harga pangan dapat dilihat di https://hargapangan.id/

Penulis : Afrizal Adam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *