Penerapan B20 Hampir 100%, Pemerintah Gencar Kampanye Sawit

Nusantararesearch –

Mandatori B20 resmi berlaku sejak 1 September 2018 dan hanya dalam kurun waktu 4 bulan, penerapan biodiesel 20% tersebut sudah hampir mencapai 100%. Hal ini seperti menjawab tantangan energi dunia, dimana Indonesia mampu memproduksi B20 sebagai bahan bakar nabati olahan minyak sawit. Penerapan B20 ini selain dapat menekan laju impor migas juga dapat menghemat sekian triliun biaya impor.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution yang mengatakan bahwa pelaksanaan kebijakan pencampuran unsur nabati ke dalam biodesel sebesar 20% atau B20 untuk mengurangi impor solar, sudah berjalan dengan baik. Peningkatan penggunaan minyak sawit sebagai bahan bakar terlihat dari realisasi kumulatif penyaluran minyak nabati yang telah melalui proses esterifikasi atau transesterifikasi (FAME) yang hampir mencapai 90%.

Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan penyaluran FAME tahun 2018 sebesar 3.478.825 (KL) atau 86% dari taget penyaluran FAME sebesar 4.041.358 (KL). Tahun 2019, pemerintah menetapkan target penyaluran FAME pada kisaran 6,2 juta KL dengan realisasi yang ditargetkan bisa mencapai 93%. Meski demikian banyak pekerjaan rumah yang perlu dilakukan pemerintah hingga mencapai penerapan 100% B20, terutama masalah lingkungan yang masih menjadi kendalanya.

Untuk memperkuat eksistensi pengolahan energi dari minyak sawit, pemerintah gencar melakukan kampanye maupun diplomasi ke sejumlah negara seperti yang baru-baru ini diusung delegasi Indonesia dalam kunjungan ke Kedutaan Besar RI di Washington DC, Amerika Serikat pada Rabu, 16 Januari 2019. Delegasi Indonesia yang tergabung dalam beberapa komunitas sawit memaparkan perkembangan hasil sawit dalam produksi energi sumber daya melalui B20 yang bertujuan untuk mengurangi laju impor solar maupun meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanah air.

Melalui kampanye tersebut, Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Bernard Riedo mengatakan bahwa dengan produktivitas yang makin tinggi, maka biaya produksi semakin rendah sehingga minyak nabati bisa semakin berdaya saing. Sementara Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Budi Bowoleksono menjelaskan bahwa minyak sawit dan industrinya berperan sebagai pendorong ekonomi Indonesia.

Setelah penerapan B20, saat ini pemerintah semakin giat mempersiapkan transisi B20 menuju B30 yang akan segera menuju tahap uji coba. Pemerintah menggandeng para pakar ahli migas seperti pihak PLN dan Pertamina dalam proses tersebut. Dengan refleksi penerapan B20 yang sejauh ini memberikan dampak positif terhadap laju perekonomian dalam negeri maupun global, pemerintah semakin yakin untuk menuju B30.

Namun, meskipun pemerintah terus mengupayakan langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam pemanfaatan biodiesel menggunakan minyak sawit, namun ancaman global masih menggelayuti kebijakan pemerintah ini. Saat ini kampanye-kampanye hitam dengan gencarnya dilakukan oleh pihak Eropa melalui sejumlah Non-Government Organization (NGO) dengan menyerang pengolahan kelapa sawit yang dianggap berdampak buruk terhadap lingkungan. Bentuk kampanye hitam ini merupakan salah satu upaya pihak Eropa untuk menahan masuknya minyak sawit ke pasaran karena persaingan produksi bahan bakar nabati jenis lain di sejumlah negara di Eropa.

Untuk menangkal kampanye hitam ini, pemerintah pun terus melakukan kampanye positif maupun diplomasi kepada negara-negara tujuan ekspor dengan memberikan paparan manfaat ekspor minyak sawit bagi Indonesia, maupun keunggulan bahan bakar nabati jenis ini dibanding dengan bahan bakar nabati jenis lainnya. Selain itu, terkait persiapan B30, Pemerintah perlu terus memperhatikan dan mengkaji persiapan tersebut agar menghasilkan pengolahan minyak sawit yang lebih baik lagi serta terus memberikan kontribusi terhadap penekanan laju impor maupun pendapatan negara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *