Tekan Defisit Neraca Dagang, Pemerintah Perluas Pasar Ekspor

Nusantararesearch –

Badan Pusat Statistik melaporkan bahwa pangsa pasar ekspor Indonesia sepanjang 2018 tak mengalami perubahan signifikan, bahkan defisit neraca dagang periode Januari-Desember 2018 mencatatkan defisit sebesar US$ 8,57 miliar sehingga defisit neraca perdagangan tahun 2018 menjadi capaian paling buruk. Hal ini menjadi prioritas pemerintah untuk melakukan upaya-upaya perluasan pasar ekspor.

            Sejauh ini pangsa ekspor Indonesia masih mencakup negara-negara seperti Cina, Amerika Serikat, Jepang, negara-negara kawasan Asia Tenggara, dan Uni Eropa. Saat ini pemerintah berupaya untuk memperluas pasar ekspor ke Afrika terutama di negara-negara di Afrika Utara seperti Mozambik, Tunisia, dan Maroko.

            Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Arlinda, mengungkapkan pihaknya telah menegoisasikan perjanjian perdagangan dan sudah memiliki target penyelesaian perdagangan dengan beberapa negara di Afrika tersebut. Pembahasan perjanjian perdagangan dengan Tunisia dan maroko penting antara lain karena negara-negara tersebut memiliki akses yang dekat dengan kawasan Uni Eropa.

Sementara itu Oke Nurwan selaku Sekretaris Direktorat Jenderal Kementerian Perdagangan untuk Perdagangan Luar Negeri menilai bahwa status Indonesia sebagai rumah bagi populasi Muslim terbesar di dunia adalah “keuntungan” dalam melobi sesama negara mayoritas Muslim untuk membeli produk-produknya karena negara-negara di Afrika Utara sendiri yang mayoritas berpenduduk Muslim.

Selain memperluas pasar ekspor ke wilayah Afrika, pemerintah akan mengkaji perubahan aturan untuk kemudahan ekspor produk nonmigas. Peningkatan ekspor akan lebih berdampak besar daripada pengendalian impor, terutama untuk produk migas yang memberi andil atas defisit neraca. Pemerintah juga akan berupaya mendorong ekspor produk industri sebagai subtitusi atas ketergantungan Indonesia terhadap komoditas.

Kemendag juga menargetkan pertumbuhan ekspor tumbuh 7,5 persen pada tahun 2019, yang mana mendekati realisasi ekspor yang dicapai periode Januari-November 2018 yakni sebesar 7,47 persen. Target  tersebut realistis dengan mempertimbangkan kondisi perekonomian global yang masih dibayangi perang dagang. Untuk meningkatkan kinerja ekspor selain menyasar pasar tradisional seperti China, AS, Jepang, Malaysia, Filipina, Korea Selatan dan Thailand, Kemendag juga serius melakukan penetrasi pasar ekspor ke negara-negara nontradisional.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistiramengatakan bahwa perluasan pasar ke negara dagang nontradisional dapat menjadi solusi jangka pendek dalam menghadapi dinamika perang khususnya ke negara-negara yang memang teridentifikasi terdampak perang dagang. Sebab, Indonesia akan mengalami persaingan ketat ketika negara lain memiliki pemikiran serupa, yakni penetrasi ekspor ke negara-negara baru tersebut. Khususnya Afrika yang kini sedang mengalami pertumbuhan penduduk relatif cepat, sehingga kebutuhan terhadap produk tertentu diprediksi meningkat.

Melihat berbagai upaya yang dilakukan pemerintah untuk memperluas pasar ekspor dan menekan defisit neraca dagang, pemerintah perlu meneliti secara jeli aspek-aspek atau dampak yang terjadi dari sebuah perjanjian atau kesepakatan dengan pihak asing serta kemungkinan celah yang menjadi penghambat yang akan merugikan pemerintah sehingga tujuan utama pemerintah dapat tercapai dengan baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *