DBD Terus Mengancam Pulau Lombok

Mataram – Musim penghujan yang akhir-akhir ini terus mengguyur pulau Lombok membawa dampak besar bagi berkembangnya nyamuk penyebab Demam Berdarah Dongue (DBD). Hal ini menjadi ancaman serius bagi masyarakat disana.

Seperti yang disampaikan H. Tuwuh selaku Kepala Dinas Kesehatan Kab. Lombok Barat (KSB), bahwa ada dua kasus DBD ditemukan di awal tahun 2019. Keduanya ada di Kec. Maluk, dan saat ini korban sendiri sudah di tangani secara intensif. Munculnya kasus DBD terjadi karena perubahan iklim di wilayah setempat. Selain itu juga faktor kebersihan yang kurang, sehingga kasus seperti ini terjadi tiap tahunya. 

“memang Jika dilihat dari tahun 2018, kasus DBD banyak ditemukan di Kec. Maluk dengan 8 kasus, kemudian Kec. Taliwang 4 kasus, Kec. Brang Ene dan Brang Rea masing-masing 1 kasus, dan desa Tongo 1 kasus. sampai saat ini kasus terbanyak ada di Kec. Maluk dan di perdiksi akan terus meningkat. Sedangkan Pihak Dikes KSB juga sudah menyiapkan tim kusus untuk melakukan pemantauan jentik sekaligus pemberantasan di setiap puskesmas untuk terus memantau masyarakat, supaya angka korban DBD di KSB bisa terus ditekan.” kata H. Tuwuh.

Selain di KSB, DBD juga menyebar di daerah lain seperti di Kab. Lombok Utara. Kepala Bidang Pendeteksi Penyakit Dinas Kesehatan KLU I Ketut Jaya menjelaskan, bahwa Selama Januari 2019 Dikes KLU mencatat ada 29 orang terjangkit DBD dan 22 orang terjangkit malaria. Dengan perincian, di Puskesmas Tanjung terdapat 4 kasus suspek dan 7 DBD, Puskesmas Pemenang 10 suspek dan 4 DBD, Puskesmas Nipah 1 DD (Demam Dongue) dan 1 DS (Demam Shock Syndrom), Puskesmas Bayan 1 suspek, dan Puskesmas kayangan 1 suspek. Jadi semuanya berjumlah suspek 16 kasus, DD 1 kasus, DBD 11 kasus dan DSS 1 kasus. Sedangkan untuk kasus malaria terdapat di Puskesmas gangga 19 kasus, dan Puskesmas tanjung 3 kasus.

“sebagai perbandingan, jumlah kasus DBD di seluruh Prov. NTB pada 2018 terdapat 872 pasien. Maka dari itu tahun ini belum masuk katagori sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) karena akan dinyatakan KLB kalau sudah mencapai dua kali lipat dari tahun lalu, yaitu jika ¬†mencapai angka di atas 1.600 pasien.” ucap Nurhandini Eka Dewi Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB. “Penyebaran malaria pada tahun ini lebih cepat dari tahun lalu, karena banyak warga yang masih tidur diluar rumah atau di tenda pasca gempa dan kondisi cuaca yang berubah-ubah. Selain itu juga karena siklus 10 tahunan out break kasus DBD.” imbuh nurhandini. (JF)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *