Industri Pariwisata Lombok Menukik Diperparah Mahalnya Harga Tiket

Nusantararesearch.com – Suasana di Bandara Internasional Praya, Lombok Tengah, pada hari ini, 2 Februari 2019 terpantau sepi, Bandara penghubung destinasi pariwisata yang dicanangkan akan menjadi primadona ini menghadapi masa-masa sulit, debit penumpang yang biasanya ramai berangsur sepi. Sejak terjadinya gempa besar di Lombok Utara pada Juli 2018 silam, animo turis domestik maupun mancanegara terhadap destinasi wisata di pulau Lombok menurun drastis. hal ini tercermin dari sejumlah penerbangan harian menuju dan ke Lombok International Airport (LIA) yang ditunda hingga rata-rata penerbangan berkurang sebesar 40 penerbangan per hari.

General Manager PT. Angkasa Pura I LIA, Nugroho Jati mengatakan bahwa tidak ada faktor kendala teknis yang berpengaruh terhadap penundaan penerbangan, itu semua dikarenakan kuota penumpang yang tidak memenuhi minimum operasional. penurunan jumlah penumpang diperkirakan karena penjualan tiket pesawat memasuki low season atau musim sepi, harga tiket pesawat yang mengalami kenaikan, serta  diberlakukannya sistem pembayaran bagasi oleh sejumlah maskapai.

Zulfikar Noor (Shared Service Departement Head PT Angkasa Pura I LIA) memperkuat argumen Pak Nugroho dengan mengatakan bahwa harga tiket pesawat dari Lombok ke Jakarta PP biasa bisa didapat di rentang harga 1.8 juta rupiah, namun sekarang bisa mencapai 3 juta rupiah di luar biaya bagasi pesawat.

Dampak penundaan penerbangan yang diakibatkan penurunan penumpang dirasakan oleh pelaku industri transportasi lainnya, seperti Lalu Aksar Hadi (Direktur PT Dharma Lestari Tour and Travel Loteng) yang bergerak di bidang kendaraan travel. Aksar mengatakan bahwa biasanya kendaraan operasional travel melakukan perjalanan antara 25 s.d. 30 kali sehari dari lombok hingga kota tujuan, namun setelah berkurangnya penumpang pesawat, kendaraan travel hanya beroperasi 6 s.d. 7 kali dalam sehari,

Sebagai salah satu destinasi wisata Nasional, diperlukan kebijakan pemerintah yang mendukung sektor Industri Pariwisata Khususnya di Lombok. apalagi Pemerintah Provinsi sedang fokus pada pembangunan daerah yang terkena dampak gempa. Koordinasi multi-Instansi diperlukan, seperti antara pemerintah pusat dengan maskapai penerbangan untuk menekan harga tiket, maupun dengan media untuk meredakan trauma publik akibat gempa bumi yang menimpa Lombok. (Frmzh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *