WNA Afghanistan Meninggal Dunia: HMI Unsrat Adakan Aksi Solidaritas, FKUB Sulut Adakan Pertemuan Guna Cegah Konflik Antar Agama

Meninggalnya WNA asal Afghanistan (Sajjad Jakob) pada 13 Februari 2019 lalu menjadi atensi bagi beberapa pihak, terlebih hal tersebut dianggap sebagai permasalahan kemanusiaan yang harus segera diselesaikan. Himpunan Mahaswa Islam (HMI) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) langsung bereaksi dengan mengadakan aksi spontanitas yang menyuarakan bahwa Undang-Undang Dasar 1945 menjamin hak kebebasan seseorang bagi siapa pun dia dan dimana pun dia berada.
Aksi longmarch HMI Universitas Sam Ratulangi pada 15 Februari 2019 lalu tersebut diikuti 20 peserta aksi yang berjalan mengelilingi kampus Unsrat diawali dengan menyanyikan lagu darah juang dan berakhir di depan patung Wolter Monginsidi. Aksi tersebut merupakan bentuk solidaritas atas meninggalnya Sajjad Jakob yang merupakan mahasiswa Teknik Sipil Unsrat angkatan 2013.
Di tengah aksi tersebut, massa menuntut beberapa hal, diantaranya yaitu untuk memberikan hak hidup kepada 12 imigran asal Adghanistan yang berada di Manado, memberikan jaminan kesehatan, pendidikan dan kebutuhan pokok lainnya serta memberikan sertifikat/keabsahan bagi 12 imigran asal Afghanistan yang ada di Manado.
Melihat beragam respon yang diberikan terkait permasalahan tersebut, pihak Kemenag Sulut menginisiasi untuk mengadakan pertemuan antara Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) dengan Kemenkumham Sulut guna mencegah terjadinya konflik horizontal dan mendapatkan solusi yang tepat dari sudut pandang berbagai pihak. Pertemuan yang diadakan pada Pada 16 Februari 2019 di Ruang WOC lantai 1 Kantor Gubernur Sulawesi Utara tersbut dihadiri oleh beberapa pihak terkait diantaranya Kepala Divisi Keimigrasian Kemenkumham Sulut (Jamaruli Manihuruk, S.H., M.H.), Kasubag Hukum dan Kerukunan Umat Beragama Kemenag Sulut (Santi Kalangi), Staff Khusus Gubernur Sulut Bidang Komunikasi dan Humas (Dino Gobel), Kepala Rudenim Manado (Arthur Mawikere), Kasubag Tata Usaha Rudenim Manado (Arif), Kasat Pol PP Provinsi Sulut (Steven Liow), dan Wakil Sekretaris I FKUB Sulut (Tenni Assa).
Kepala Divisi Keimigrasian Kemenkumham Sulut menjelaskan, “12 orang WNA Afghanistan yang bermasalah merupakan pencari suaka yang sudah berada di Indonesia sejak tahun 2000. Namun, sejak 2017 telah berubah status menjadi tahanan imigrasi karena permohonan mereka untuk menjadi pengungsi ditolak oleh IOM dan UNHCR. Akibatnya, kebutuhan mereka sudah tidak lagi ditanggung oleh IOM dan menjadi tanggung jawab Rudenim Manado sehingga ada perbedaan fasilitas yang diperoleh dan perbedaan perlakuan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang ada. Hal-hal tersebutlah yang menyulut protes dari para imigran.”
Sebelumnya, Kemenkumham telah melaksanakan rapat koordinasi dengan Kepolisian, Baznas, Unsrat, HMI, dan PMII yang menghasilkan kesepakatan yang berisi:

  1. Para imigran akan dikembalikan ke Rudenim Manado
  2. Para imigran dapat melanjutkan program pendidikan yang sedang dijalani dengan jaminan dari pihak Unsrat
  3. Segala kebutuhan imigran akan ditanggung oleh Unsrat
  4. Segala biaya pengobatan akan ditanggung pihak Rudenim dengan batas tertentu.
  5. Penanganan lebih lanjut akan dilimpahkan ke pemerintah pusat.

Kasus ini menjadi semakin rumit karena banyaknya berita-berita hoax yang tersebar di masyarakat yang kemudian dikaitkan dengan isu-isu sara. Informasi-informasi yang menyudutkan pihak Rudenim dan Kemenkumham tersebut disinyalir berasal dari para imigran itu sendiri yang menyebarkannya melalu media sosial. Terkait hal tersebut, mengingat keberadaan imigran yang saat ini ada di luar Rudenim, Tenni Assa menyampaikan, “Semua pihak patut mewaspadai para imigran yang sementara tinggal di Masjid kampus Unsrat karena dapat lebih leluasa menyampaikan informasi-informasi bohong secara langsung dan bebas kepada masyarakat luas dengan memutar balikkan fakta sehingga menimbulkan reaksi dari kelompok kelompok tertentu.”

Selanjutnya, FKUB akan berkoordinasi dengan Pemprov Sulut untuk mengundang para pimpinan media untuk memaparkan realitas objektif yang ada guna meluruskan berita-berita yang terlanjur berkembang sebelumnya.

Penulis: Ina/Udin

Editor: Joy


Forum Komunikasi Umat Beragama yang diadakan di Kantor Gubernur Sulawesi Utara (16/2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *