2 Unit Boiler PT.Saraswati operasi Tanpa Izin Berujung Laka Kerja Buruh, Miris!!

Tojo Una-Una. Selain masalah Hak-hak perburuhan yang terjadi dilingkungan PT.Saraswati Coconut Product (PT.SCP), ternyata ada masalah lainnya yang tidak kalah pelik, yaitu izin operasi pesawat/ketel uap/boiler yang ada didalam Pabrik PT.SCP. Ditemui dikediamannya, SL (Mantan Buruh PT.SCP) menyatakan bahwa 2 unit Boiler Marshall Intel FVPL-16-2527 masing-masing dengan kapasitas penguapan 3000 kg/jam dan 4000 Kg/jam telah beroperasi tanpa izin dilingkungan PT.SCP semenjak tahun 2017. Pihaknya mempertanyakan bagaimana peran dan keseriusan pihak Pemerintah dalam hal ini Disnaker Provinsi Sulawesi Tengah  melakukan fungsi pengawasan.

SL juga menambahkan bahwa sesuai dengan peraturan Permenaker No.37 Tahun 2016 Tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bejana Tekanan Dan Tangki Timbun, maka pemasangan dan pengguanan Boiler harus sudah melalui a.l.:

  1. Tahapan pertama adalah Uji Konstruksi/fisik yang dilakukan oleh PJK3 yang ditunjuk oleh Kemenaker RI. Tahapan ini dilakukan ketika boiler belum pernah beroperasi.
  2. Tahapan Kedua adalah tahapan Riksa Uji yang dilakukan oleh PJK3 yang ditunjuk oleh kemenaker RI dan hal tersebut merupakan syarat untuk mendapatkan izin operasional boiler.
  3. Tahapan Riksa Uji rutin terhadap boiler yang seharusnya dilakukan setahun sekali oleh PJK3 yang ditunjuk oleh Kemenaker RI.

Dari poin-poin peraturan Kemenaker RI tersebut, maka tidak ada satupun yang dipatuhi oleh PT.SCP khususnya terkait izin operasional Boiler.

Disisi lain, operator boiler yang dipekerjakan hampir keseluruhan tidak memiliki Surat Izin Operasional (SIO) Boiler. Oleh karena itu selain tidak ada izin operasional, resiko langsung yang mungkin bisa dialami oleh pekerja  adalah laka kerja.

SL juga turut menceritakan kronologi laka kerja operator boiler yang dialami oleh Saudara Madani (Pria,21 Tahun) yang sudah bekerja 2 tahun di perusahaan tersebut. Dengan kronologi, pada 28 April 2019 pukul 01.00 wita, Sdr. Madani yang sedang melakukan pengumpanan  atau penyemprotan  limbah B3 sebagai pengganti bahan bakar Kayu kedalam ruang laga api/tungku pembakaran Boiler. Petunjuk tersebut diterima atas perintah sdr. Pawan Kumar (Direktur Marketing PT.SCP berkebangsaan India)  dengan dalih inovasi. Padahal standar prosedur tersebut sangat berlawanan dengan desain awal Boiler pabrikan India tersebut dimana bahan bakarnya merupakan bahan padatan seperti kayu bakar.

Alih-alih inovasi, justru nasib buntung menghampiri sdr. Madani, jilatan Api  merambat dan mengenai wajah dan leher sebelaha kanan sdr. Madani. Sehingga  Sdr. Madani dinyatakan  mengalami luka bakar 9% dibagian wajah dan leher.  “Padahal sumber bahan bakar standar pabrikan Boiler tersebut  adalah kayu bakar, untung saja Mardani tidak mengalami luka bakar serius yang dapat merenggut nyawanya” Tambah SL.

 

SL turut prihatin dan menyesalkan kejadian laka kerja yang menimpa kawannya tersebut. SL menganggap  PT.SCP sama sekali tidak peduli terhadap Keselamatan Pekerja dengan mengabaikan peraturan dan ketentuan Kemanaker terkait K3 dan APD, pungkasnya. Dan menurut SL perusahaan india tersebut  terkesan menganggap remeh dan membangkang terhadap otoritas Hukum dan Peraturan yang berlaku di Negara Indonesia khususnya mengenai ketenagakerjaan. Lebih Jauh SL menilai bahwa PT.SCP  dapat dianggap sudah melakukan praktik Kerja Paksa (Forced Labour) dan praktik perbudakan (Bounded Labour).

YA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *