Ajakan Merawat Persatuan dan Keamanan Pasca Penetapan Hasil Pemilu, Forum Rumah Pers Menggelar Diskusi Publik

Pasca penetapan hasil pemilu 2019, Forum Rumah Pers Mahasiswa (rumahpers.com) menggelar diskusi publik guna mengimbau masyarakat dan elite politik agar menjunjung tinggi persatuan.

 

Acara yang digelar di Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan, Selasa (23/7), mengusung tema “Pemberdayaan Peran Media Massa dan Masyarakat Guna Merawat Persatuan dan Keamanan Pasca Penetapan Hasil Pemilu 2019”.

 

Diskusi dihadiri oleh Dhika Kurniawarn (GM Digital Marketing Kumparan), Irmanto Lukman (Wakil Ketua PWI Jaya), Adi Prayitno (Dosen FISIP UIN Jakarta dan Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia) dan Suhendar (Fungsionaris GP Ansor).

 

Salah satu pembicara, Adi Prayitno yang juga merupakan dosen FISIP UIN Jakarta, mengajak seluruh masyarakat untuk menanggapi politik (hasil pemilu) dengan biasa-biasa saja, jangan fanatik buta dan media sosial itu ibarat bermuka dua, baik dan buruk. Tergantung bagaimana kita menggunakannya.

 

“Sudah ada yang cerai gara-gara pemilu, ada makam yang dibongkar. Kita ribut seolah-olah pemilu ini seperti jalan menuju surga, seperti perang salib, tapi padahal di level elit mereka sudah selesai. Jadi ya kita biasa-biasa saja lah.” Tutur Adi Prayitno.

 

Dhika Kurniawan mengatakan bahwa Indonesia sudah memasuki era industry 4.0 dimana segala sesuatu berbasis teknologi, salah satunya dengan maraknya penggunaan sosial media. Untuk itu sebagai pengguna kita harus bisa menelaah mana informasi yang bersifat provokatif dan mana yang bersifat edukatif. Terkadang hoax itu, dapat berasal dari diri kita sendiri, bila kita tidak mencerna informasi dengan baik. Seperti Forum Rumah Pers, merupakan suatu bentuk wadah yang baik dan dapat mengurangi hoax itu sendiri.

 

Irmanto Lukman mengingatkan agar bijak dalam mengkonsumsi media dan menggunakan media sosial. Ketika kita membaca di Instagram atau Twitter maka kita dapat informasi, tetapi untuk mencari berita kita bisa membuka media massa. Agar terhindar dari berita palsu (hoax) masyarakat jangan menelan menah-mentah informasi dari media sosial, masyarakat perlu mengecek kebenarannya, salah satunya melalui media massa.

 

Selain itu, Suhendar mengingatkan bahwa politik identitas yang mengatasnamakan agama dapat memicu perpecahan, malah berbanding terbalik dengan fungsi agama itu sendiri. Jadi kita harus berhati-hati dalam bersosial-media agar tidak terjerumus pada fanatisme yang menyebabkan perpecahan.

 

Dengan diadakannya diskusi publik ini, kedepannya media massa sangat diharapkan memberikan informasi yang edukatif dan dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini juga merupakan bentuk perlawanan terhadap informasi palsu atau hoax.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *