BPBD Sulawesi Utara: Masyarakat Juga Berperan dalam Antisipasi Bencana

Bencana memang bukan hal yang diharapkan menimpa siapapun, namun pada kenyataannya banyak bencana yang terjadi karena ulah manusia itu sendiri. Pada kejadian beberapa bencana tertentu, seperti kebakaran hutan, tanah longsor, dan banjir faktor manusia sangat dominan menjadi penyebabnya. Lantas apa yang akan dilakukan jika bencana sudah terjadi? Pemerintah dalam kaitan ini Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai lembaga yang berfungsi dalam penanggulangan dan penanganan bencana di Indonesia memiliki tugas yang berat karena Indonesia berada di daerah ring of fire sehingga potensi bencana di Indonesia cukup tinggi.

BNPB memiliki perwakilan setingkat provinsi di setiap daerah, termasuk di Sulawesi Utara. Provinsi Sulawesi Utara yang memiliki Kondisi geologi sebagian besar wilayah vulkanik muda, sejumlah besar erupsi serta bentuk kerucut gunung merapi aktif yang padam menghiasi Minahasa bagian tengah, daerah Bolaang Mongondow dan kepulauan Sangihe. Material-material yang dihasilkan letusannya berbentuk padat serta lain-lain bahan vulkanik lepas. Semua vulkanik ini berbentuk pegunungan (otogenisa) menghasilkan morfologi yang berbukit-bukit dan bergunung-gunung dengan perbedaan relief topografik yang cukup besar.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Sulut, Ibu Sri Intan Montol menjelaskan terdapat dua jenis bencana yaitu bencana alam dan bencana sosial/non alam. bencana alam diantaranya gempa bumi, gempa bumi disertai tsunami, banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan. Sedangkan bencana non alam termasuk zoonosis (penyakit yang secara alami menular dari hewan kepada manusia dan sebaliknya) dan konflik sosial dimana di Sulawesi Utara jarang terjadi. BPBD Sulut selalu siap apabila diminta untuk memberikan sosialisasi dan simulasi bencana dari instansi, sekolah, maupun perusahaan syaratnya hanya dengan mengajukan surat permohonan ke BPBD.

Akhir-akhir ini di Sulawesi Utara sering diguncang gempa berkekuatan sedang dengan skala rata-rata 3 SR, masyarakat perlu waspada karena pada 14 Juli 2019 lalu juga terjadi gempa dengan skala 7,1 SR di Halmahera yang dirasakan cukup kuat oleh masyarakat Manado dan beberapa kota di Sulawesi Utara. Hal tersebut dapat langsung terdeteksi melalui monitor yang terhubung dengan alat seismometer BMKG di pusat pengendalian dan operasi kantor BPBD Sulut.

Selain monitor untuk memantau gempa bumi, BPBD Sulut juga memiliki alat pendeteksi tsunami yang akan membunyikan sirine apabila terjadi gempa dengan skala tertentu. Kendaraan lain yang disiapsiagakan dalam penanganan ebncana yang dimiliki BPBD Sulut antara lain, truk air bersih (WTP portable), truk toilet, ambulans, perahu dolphin, perahu karet, dan lain sebagainya.

Mitigasi bencana bukan satu-satunya tugas pemerintah atau aparat saja, namun banyak pihak yang harus terlibat di dalamnya termasuk masyarakat. Selengkap dan secanggih apapun alat yang dimiliki pemerintah tidak ada artinya apabila masyarakat tidak memiliki budaya sadar bencana yang menitikberatkan pada pencegahan sehingga efek bencana dapat diminimalisir. Beberapa hal berikut merupakan mitigasi risiko yang dapat dilakukan masyarakat apabila terjadi bencana baik bencana alam maupun non alam.

Mitigasi risiko gempa bumi:

  1. Mengetahui informasi gempa bumi (BMKG, TV, sosial media, dll)
  2. Membuat peringatan dini mandiri seperti mengikat benda-benda yang tergantung dengan kuat
  3. Menyiapkan tas bencana
  4. Ketika terjadi gempa bumi di ruangan maka berlindung di bawah meja untuk menghindari jatuhnya benda atau dengan bantal, apabila di dalam lift dihimbau untuk segera menghubungi petugas gedung dengan interphone jika tersedia

 

Mitigasi risiko tsunami:

  1. Mengetahui tanda-tanda tsunami seperti terjadi gempa dengan skala 6,8 SR dan pusat kedalaman gempa tidak lebih dari 70 km serta air laut yang surut secara tiba-tiba
  2. Jika terjadi tsunami agar tidak panik dan bergerak sesuai jalur evakuasi tsunami, jika tidak mengetahui jalur evakuasi dihimbau ke tempat yang lebih tinggi
  3. Mencari gedung yang berkontruksi kuat/ minimal 3 lantai
  4. Mencari benda yang mengapung yang dapat dijadikan rakit

 

Mitigasi risiko bencana gunungapi:

  1. Tidak berada di lokasi lembah atau daerah sungai
  2. Menghindari abu letusan gunung api
  3. Tidak menggunakan lensa kontak
  4. Menggunakan masker atau kain basah untuk menjaga pernapasan
  5. Menggunakan pakaian lengan panjang
  6. Menghindari mengendarai mobil di daerah yang terkena hujan abu vulkanik

 

Mitigasi bencana banjir:

  1. Mematikan aliran listrik
  2. Mengungsi ke daerah aman atau posko banjir
  3. Apabila banjir telah surut maka secepatnya untuk membersihkan rumah, saluran pembuangan air limbah (SPAL)
  4. Menjauhi kabel listrik
  5. Memastikan air sumur tidak terkontaminasi

 

Mitigasi bencana zoonosis (penyakit yang ditularkan hewan kepada manusia atau sebaliknya):

  1. Pencegahan dengan menjaga kebersihan kandang dengan desinfektan
  2. Menggunakan masker, sarung tangan, sepatu boot jika mengurus hewan yang sakit
  3. Menjaga kebersihan tangan
  4. Memasak dengan benar daging sapi, kambing, maupun unggas
  5. Apabila tergigit anjing atau kucing segera mencuci luka bekas gigitan luka bekas gigitan dengan sabun di bawah kucuran air mengalir selama 10 sampai 15 menit agar dinding virus yang dibuat dari lemak rusak oleh sabun
  6. Segera ke dokter atau rumah sakit untuk mendapat vaksinasi (nrn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *