Jeda Untuk Iklim: Panggung menolak punah serukan penghentian kerusakan lingkungan

Para aktivis lingkungan, mahasiswa dan seniman yang bergabung dalam #gerakanmenolakpunah menggelar panggung musik dan seni dalam rangkaian aksi jeda untuk iklim yang digelar serentak di seluruh dunia pada 20 hingga 27 September.

Aksi diawali dengan pawai iklim di tepi Pantai Pasar Bengkulu menyerukan pemimpin daerah dan nasional untuk berhenti dari kecanduan energi fosil terutama batu bara untuk sumber pembangkit listrik.

“Kami ikut bersuara karena kami hidup di bumi ini jadi kita bertanggungjawab melestarikan tempat hidup kita,” kata Dwi Astuti dari Indonesia Youth Education and Social (IYES) Bengkulu.

Menurut Dwi kerusakan lingkungan akibat industri ekstraktif seperti penambangan batu bara di Bengkulu menyebabkan sumber air tercemar dan lahan pertanian tak lagi produktif.

Pembakaran batu bara dan energi fosil lainnya seperti minyak bumi memicu kenaikan suhu bumi menyebabkan permukaan air laut terus naik yang bisa menenggelamkan banyak pulau di penjuru Nusantara dan dunia.

Naila Mutia Adina dari Fossil Free Bengkulu mengatakan ikut beraksi untuk iklim karena menginginkan perubahan dari ketergantungan terhadap energi fosil dengan beralih ke energi terbarukan.

“Indonesia adalah surga energi terbarukan, jadi tidak ada alasan pemerintah untuk terus membakar fosil,” ujar mahasiswa Jurusan Kehutanan Universitas Bengkulu ini.

Menurut Naila ketamakan sebagian orang menjadi persoalan utama sehingga mereka yang tidak bersalah juga ikut menderita.

Gerakan jeda untuk klim yang diadakan serentak di seluruh dunia guna menuntut dideklarasikannya status darurat iklim akan terus digaungkan kaum muda Bengkulu.

Sebelumnya kelompok ini juga telah menggelar aksi diam di Simpang Lima, jantung Kota Bengkulu menyerukan penghentian kecanduan terhadap batu bara.

Aksi jeda untuk iklim dengan panggung menolak punah ini diisi para seniman lokal dan mendapat dukungan dari artis ibu kota Andi Babas pentolan Band Boomerang.

Aksi ini juga disertai dengan mural, lukis kain, sablon baju, stand energi terbarukan, tanda tangan petisi dan pentas seni. Ada pula pula pembagian stiker berisi informasi tentang pentingnya menghentikan penggunaan energi kotor batu bara untuk masa depan generasi.

Koordinator lapangan, Wahyu Masyuri mengatakan aksi ini bertujuan  mengkampanyekan pentingnya transisi energi dari fosil ke energi terbarukan secara adil. Mewujudkan masa depan bebas energi fosil merupakan langkah nyata penanggulangan perubahan iklim untuk kelangsungan hidup kita dan generasi mendatang.

“Menghentikan PLTU batu bara artinya kita akan mengurangi krisis iklim,” katanya.

Perwakilan #gerakanmenolakpunah Suyitno yang juga penggiat seni mengatakan aksi ini untuk menyerukan semua orang bahwa bumi sudah menuju kepunahan akibat perubahan iklim.

Menurutnya, komitmen Indonesia menurunkan emisi karbon bertolak belakang dengan pengembangan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batu bara di Kelurahan Teluk Sepang.

Sebanyak 2.700 ton batu bara akan dibakar setiap hari di PLTU tersebut yang memancarkan 700 ton abu beracun ke udara yang dihirup warga Kota Bengkulu setiap hari.

“Karena itu kami sejak awal menolak proyek itu dan mendorong pemerintah segera mengembangkan energi terbarukan seperti tenaga matahari, air angin yang tidak pernah habis dan dapat terus diperbaharui,” katanya.

 

Adapun seruan peserta aksi adalah :

1. Stop PLTU batu bara Teluk Sepang

2. Segera bentuk peta jalan transisi ke energi terbarukan

3. Pulihkan kerusakan lingkungan dan kembalikan hak-hak korban

4. Transisi berkeadilan bagi tenaga kerja terdampak

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *