Buntut Kenaikan Harga Sembako Aliansi Rakyat Yogyakarta Meradang.

Jogjakarta, aliansi masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Front Perjuangan Rakyat Yogyakarta mengecam kenaikan harga sembako yang dinilai sangat memberatkan rakyat kecil khususnya di wilayah Yogyakarta, dalam aksinya Aliansi menuntut :

Untuk menghentikan import pangan, turunkan harga sembako, tolak kenaikan harga iuran BPJS, hentikan monopoli tanah, dan jalankan reforma agraria nasional.

“Sudah seharusnya negara menjamin kesejahteraan rakyatnya, negara harusnya hadir dan menmberikan solusi terhadap masalah yang ada” Ujar Angga saat di wawancarai oleh awak Nusantara Research, Senin (23/12/19).

Kenaikan harga pangan yang dikategorikan sebagai sembilan bahan pokok (sembako) terjadi sejak 5 Desember. Beberapa komoditi tersebut antara lain, Bawang merah dari 30.000 rupiah per kilogram menjadi 33.500, Cabai merah keriting dari 21.750 rupiah per kilogram menjadi 32.000, Cabai merah besar dari 25.000 rupiah per kilogram menjadi 31.250, Telur dari 22.000 rupiah per kilogram menjadi 26.500. Kenaikan harga pangan ini tidak melulu karena naiknya permintaan.

“Belakangan lintah darat dan tengkulak ini tidak melulu dalam wujud orang-orang (atau manusia) melainkan juga badan hukum seperti bank, koperasi simpan pinjam, perusahaan melalui metode kemitraan, perusahaan perkebunan melalui inti plasma, dsb” Sambungnya.

Kebergantungan kaum tani pada tengkulaknya adalah ciri khas dari relasi setengah feodal yang terbelakang. Namun faktor utama yang mendorong kaum tani terjerembab dalam relasinya dengan tengkulak adalah adanya monopoli tanah.

“Mafia pangan inilah yang sejatinya mengacaukan pengelolaan pangan di Indonesia terutama di rantai distribusi. Kita tahu bahwa kaum tani adalah produsen atas pangan” Tutupnya.

Aliansi akan terus memperjuangkan hak hak rakyat khususnya kaum buruh dan tani sampai tuntutan mereka direalisasikan.

(Tom/NusRes)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *