Santri Menolak Gerakan Intoleransi dan Ekstrimis

Cara beragama yang instan, tidak mempelajari Islam secara metodologis dan komprehensif menjadi salah satu faktor yang membuat generasi milenial Islam dan masyarakat perkotaan rawan terpapar radikalisme agama. Pola pikir ekstrimis, dapat melahirkan paham radikalisme, terorisme, intoleransi, sebab pola pikir ekstrimis berkembang liar tanpa arah.

Oleh karena itu, Jaringan Literasi Santri Nusantara bekerjasama dengan Pondok Pesantren Arrahmaniyah Depok menggelar “Bincang Inspiratif : Milenial Mewaspadai Bahaya Ekstrimisme, Terorisme dan Intoleransi di Depok Jawa Barat” di Aula Ponpes Arrahmaniyah, Jl Masjid Al Ittihad No 12, Bojong, Pondok Terong, Kec. Cipayung, Kota Depok, Jawa Barat. Senin 24 Februari 2020.

Hadir sebagai pembicara adalah Dr. Mohammad Fathi (Peneliti LIPI), Ahmad Ginanjar Sya’ban, Lc., MA (dosen milenial & Filolog Islam) dan Dr. KH Muhammad Abduh (Mantan Ketua LAKPESDAM NU Depok/ Sekertaris Yayasan Arrahmaniyah).

Ah. Ginanjar Sya’ban mengatakan Kemampuan kaum milenial dalam bersosialisasi di media sosial sangat baik. Mereka begitu cepat menyerap semua informasi yang terjadi di seluruh belahan dunia. Demikian pula mereka juga sangat berpiawi dalam menyebarkan informasi baik yang bernilai informasi jurnalistik ataupun info yang sifat hoak.

“Karena itu santri yang pada dasarnya memiliki ilmu luas dan Akhlak, memiliki tanjung jawab untuk turut terjun berdakwah di media maupun masyarakat,” kata Filolog Santri alumni Al Azhar Mesir ini.

Masyarakat Indonesia sekarang, khusus netizennya, seakan berlomba-lomba jadi orang yang merasa pintar tanpa dasar ilmu. Sehingga gampang menghakimi dan mengkafirkan. Ini adalah wujud intoleransi yang sangat berpotensi pada sikap ektremisme.

Ginanjar yang juga alumni santri Lirboyo ini mengatakan “Melihat sesuatu itu harus dengan ilmu. Tugas kita adalah menyampaikan Islam dengan hikmah yaitu dengan ilmu mendalam kebijaksanaan yang tinggi dan tutur kata yang baik.”
“Urusan orang tidak menerima atau tidak. Itu urusan dan hak prerogatif Allah. Tugas kita menyampaikan,” tambahnya.

Aktifnya kaum milenial di media sosial bukan tidak memiliki kerawan bagi dirinya maupun kerawanan bagi negara. Ia mengatakan cara beragama yang instan, tidak mempelajari Islam secara metodologis dan komprehensif menjadi salah satu faktor yang membuat generasi milenial Islam dan masyarakat perkotaan rawan terpapar radikalisme agama.

Sementara itu, Dr. M. Fathi Royani melihat pola pikir ekstrimis, dapat melahirkan paham radikalisme, terorisme, intoleransi, sebab pola pikir ekstrimis berkembang liar tanpa arah. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dalam kajiannya mencatat sikap intoleransi yang ditunjukkan oleh kalangan terdidik di perkotaan mengalami tren peningkatan. Pada tahun 2019 Komnas juga mencatat bahwa sikap intoleransi kalangan terdidik di perkotaan meningkat hingga angka 50 persen, dari sebelumnya yang berada di angka 20 persen.

Doktor lulusan UI ini mengatakan “Prosentase terbesar yang memberikan ruang meningkatnya sikap intoleransi adalah penyebaran informasi yang tidak benar.”

Mereka yang terpapar melalui media sosial menjadi paling represif dalam merespon tiap-tiap permasalahan, bahkan berani menyebarkan berita yang tidak benar tanpa ada verifikasi terlebih dahulu.

“Mereka sangat masif bergerak, meskipun bukan sebuah kebenaran yang mereka sebarkan, karena alasan kebebasan berekspresi,” tambah Ganti yang juga Pengurus PCNU Depok ini.

Acara berlangsung lancar dan diikuti antusiasme ratusan santri Arrahmaniyah. Sehingga santri tercerahkan atas jawaban pada pembicara. (Ahdimas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *