MAHASISWA PAPUA DI YOGYAKARTA MENJAWAB PANDEMI DENGAN DAPUR PAPUA

Di tengah kondisi sulitnya ekonomi global kini rakyat Indonesia dihadapkan dengan penyebaran Virus Corona (Covid-19).  Covid-19 sudah tersebar ke seluruh provinsi di Indonesia

Pada tanggal 12 Mei korban yang dinyatakan positif terjangkit sebanyak 14.749 orang, korban yang meninggal 1007 orang, dan yang dinyatakan sembuh 306 orang, sedangkan di Papua korban positif sebanyak 322, korban yang meninggal 6 orang, dan dinyatakan sembuh 48 orang. Di Papua barat korban positif 70 orang, korban yang meninggal 1 orang, yang dinyatakan sembuh 2 orang dan data tersebut tentu akan terus meningkat jika melihat upaya dari pemerintah dalam mengatasi penyebaran virus ini yang sangat sembarangan.

Berbagai kebijakan telah dikeluarkan, seluruh instrument negara dioptimalkan hingga himbauan kepada masyarakat digencarkan. Kebijakan yang kurang tepat yang dikeluarkan oleh pemerintah dengan menutup akses informasi terkait penyebaran covid-19 dengan dalih supaya masyarakat tidak panik, justru semakin memperburuk keadaan.

“Rakyat dipaksa untuk menerka-nerka sendiri penyebaran virus covid-19, yang justru membahayakan keselamatan rakyat dan mengancam penyebaran virus semakin meluas.” Ujar Yance Yobe selaku Koordinator Dapur Appua Bersatu.

Ditengah situasi keselamatan dan kesehatan rakyat yang sedang terancam akibat dari penyebaran wabah virus corona (COVI-19) yang semakin cepat di negeri ini pemerintah justru menerbitkan perppu Nomor 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan Untuk Penanganan Pandemi Corona. Ucapan presiden yang menyatakan penambahan anggaran untuk penanganan penyebaran virus ini sebesar Rp 405,1 Triliun yang di implemntasikan dalam perppu tersebut. dengan rincian Rp 70,1 Trilian untuk membantu di sektor industri, Rp 75 Triliun untuk dukungan bagi sektor kesehatan, Rp 110 Triliun untuk pengaman sosial, Rp 150 Triliun bagi stimulus ekonomi untuk menghadapi dampak penyebaran virus Corona (Covid-19).

Namun menjadi sangat menyakitkan bagi rakyat jika melihat aggaran yang sangat besar yakni Rp 150 Triliun rupiah untuk stimulus ekonomi justru dialokasikan oleh presiden untuk menyelamatkan ekonomi yang sejatinya adalah menyelamatkan kelompok pengusaha yang sedang terancam hancur akibat pukulan dari krisis.

“Kebijakan itu menyakitkan bagi rakyat, karena anggaran negara untuk menanggulangi virus corona (Covid-19) yang cukup besar itu justru tidak dapat dipakai untuk menyelamatkan rakyat dalam menghadapi ancaman wabah virus corona (COVID-19).” Tambah Yance Yobe.

Rakyat Yogyakarta yang sebagiannya adalah mahasiswa juga mengalami dampak dari adanya pandemi covid-19, mahasiswa yang merantau tidak bisa pulang kerumah karena akses transportasi di tutup akibat pelarangan mudik, di Papua yang daerahnya pertama kali menyatakan lockdown telah mengakibatkan mahasiswa Papua tidak bisa mudik. Keberadaan mahasiswa papua yang tercatat oleh kami dan masih berada di Yogyakarta sampai dengan hari ini yaitu sebanyak 950 orang.

Ditengah situasi krisis dan minimnya bantuan logistik dari pemerintah daerah, Aliansi Mahasiswa Papua di Yogyakarta, Seruni Yogyakarta, dan di dukung juga oleh Solidaritas Pangan Jogja bersatu dan membangun Dapur Papua (Pandemi Pasti Usai) hal ini merupakan bentuk perlawanan dari ketidakseriusan pemerintah dalam menangani virus covid-19 dan menjamin hak rakyatnya terpenuhi di masa pandemi ini.

“Adanya dapur papua bertujuan untuk membantu mencukupi kebutuhan pangan mahasiswa papua yang berada di yogyakarta, kami memiliki semboyan Dalam Susah Kitong berbagi #pandemipastiusai #pandemipastiusai.” Pungkas Yance Yobe.

Dapur Papua masih membutuhkan donasi dan dapat disalurkan melalui No Rekening 3340-01-004500-500 a/n YESSICA HADYTIA. (TM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *